MAKALAH MATA KULIAH PRAKTEK DAN IBADAH TABLIGH
NIKMATNYA BERSAUDARA
Ditulis oleh :
IREDHO FANI REZA
M. RAHARDIAN MAULANA
NURUL ISTIQOMAH
NIKMATNYA BERSAUDARA
Ditulis oleh :
IREDHO FANI REZA
M. RAHARDIAN MAULANA
NURUL ISTIQOMAH
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2012 / 1433 H
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2012 / 1433 H
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang unik, setiap manusia memiliki karakteristik masing-masing sesuai dengan kepribadian yang dimiliki oleh setiap individu. Menurut al-Farabi seorang psikolog Muslim, kepribadian merupakan eksistensi individu yang menunjukan keadaan, kepribadian dan keunikanya yang dapat membedakan individu tersebut dengan individu yang lain.
Karakteristik berbeda itu sering ditampakkan ke dalam situasi sosial, dimana manusia bukan hanya makhluk individu akan tetapi juga merupakan makhluk sosial. Artinya, setiap manusia, mau tidak mau, harus berhubungan dengan orang lain agar ia dapat hidup, berkembang, bertumbuh dan mencapai tujuan hidupnya.
Manusia di tuntut dapak beradaptasi dengan orang lain, dimana individu lain memiliki kepribadian yang berbeda-beda walaupun ada beberapa bagian yang sama seperti hobbi atau kesukaan, dengan adanya persamaan tersebut maka akan timbul pertemanan dan akan berkembang menjadi persahabatan. Sebagai umat Islam sudah sepantasnya setiap individu itu merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.
Mengenai persaudaraan dan manusia merupakan makhluk sosial serta merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai sesama umat Muslim bagaikan satu badan :
“Dari Nu’man bin Basyir r.a. berkata : Rasullullah SAW bersabda : “Kamu perhatikan orang-orang Muslim dalam keadaan saling mengasihi, saling mencintai dan saling membantu, mereka itu bagaikan satu badan, apabila salah satu anggota badan terkena suatu penyakit, maka seluruh badanya merasakan sakit sakit dengan tidak bisa tidur dan terasa panas”.
Dari hadis Nabi Muhammad SAW di atas, dapat diambil makna, bahwa setiap individu terutama umat Muslim merupakan satu kesatuan yang utuh saling memiliki satu sama lainya. Sesama umat Muslim sudah sepantasnya untuk saling menyayangi satu sama lain, bila ada Muslim yang merasakan kesusahan maka, Muslim yang lain akan ikut merasakan kesusahan itu dan akan membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi Muslim yang mendapatkan kesusahan tersebut.
Akan tetapi, pada akhir-akhir ini banyak fenomena yang terjadi mengenai
mulai retaknya kualitas persaudaran sesama umat Muslim. Seperti fenomena yang terjadi di Martapura, Sumatera Selatan yang baru-baru ini terjadi, empat orang rampok dengan tega membunuh tuan rumah dengan senjata sajam di depan keluarga korban. Hal ini, menunjukan mulai berkurangnya kualis persaudaraan sesama umat Muslim.
Dari fenomena di atas, penulis akan membahas mengenai nikmatnya bersaudara ditinjau dari al-Qur’an, Ilmu Islami dan pandangan dari Ilmu Psikologi dan Sosiologi. Untuk membuka wawasan bagi para membaca bahwasanya betapa nikmatnya bersaudara terutama sesama umat Muslim.
B. Rumusan Permasalahan
1. Bagaimana persaudaran menurut Islam?
2. Mengapa persaudaran itu nikmat?
C. Tujuan Pembuatan Makalah
Pembuatan makalah ini sebagai tugaas dari mata kuliah praktek dan ibadah tabligh dan dari segi keilmuwan bertujuan untuk mengetahui paradigma persaudaraan menurut Islam dan mengetahui nikmatnya bersaudara ditinjau dari pandangan Islam, Psikologis, dan Sosiologis.
D. Manfaat Pembuatan Makalah
1. Manfaat Teoritis
Pembuatan makalah ini diharapkan akan bermanfaat bagi wawasan mengenai nikmatnya bersaudara di dalam Islam, dan sebagai informasi bagi Dakwah Islam ditinjau dari segi ilmu pengetahuan.
2. Manfaat Praktis
Hasil dan realisasi pembuatan makalah ini diharapkan, dapat membuka mata hati setiap umat Muslim yang membaca agar menghasilkan perulaku kasih saying terhadap sesama umat Muslim.
Manusia merupakan makhluk yang unik, setiap manusia memiliki karakteristik masing-masing sesuai dengan kepribadian yang dimiliki oleh setiap individu. Menurut al-Farabi seorang psikolog Muslim, kepribadian merupakan eksistensi individu yang menunjukan keadaan, kepribadian dan keunikanya yang dapat membedakan individu tersebut dengan individu yang lain.
Karakteristik berbeda itu sering ditampakkan ke dalam situasi sosial, dimana manusia bukan hanya makhluk individu akan tetapi juga merupakan makhluk sosial. Artinya, setiap manusia, mau tidak mau, harus berhubungan dengan orang lain agar ia dapat hidup, berkembang, bertumbuh dan mencapai tujuan hidupnya.
Manusia di tuntut dapak beradaptasi dengan orang lain, dimana individu lain memiliki kepribadian yang berbeda-beda walaupun ada beberapa bagian yang sama seperti hobbi atau kesukaan, dengan adanya persamaan tersebut maka akan timbul pertemanan dan akan berkembang menjadi persahabatan. Sebagai umat Islam sudah sepantasnya setiap individu itu merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.
Mengenai persaudaraan dan manusia merupakan makhluk sosial serta merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai sesama umat Muslim bagaikan satu badan :
“Dari Nu’man bin Basyir r.a. berkata : Rasullullah SAW bersabda : “Kamu perhatikan orang-orang Muslim dalam keadaan saling mengasihi, saling mencintai dan saling membantu, mereka itu bagaikan satu badan, apabila salah satu anggota badan terkena suatu penyakit, maka seluruh badanya merasakan sakit sakit dengan tidak bisa tidur dan terasa panas”.
Dari hadis Nabi Muhammad SAW di atas, dapat diambil makna, bahwa setiap individu terutama umat Muslim merupakan satu kesatuan yang utuh saling memiliki satu sama lainya. Sesama umat Muslim sudah sepantasnya untuk saling menyayangi satu sama lain, bila ada Muslim yang merasakan kesusahan maka, Muslim yang lain akan ikut merasakan kesusahan itu dan akan membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi Muslim yang mendapatkan kesusahan tersebut.
Akan tetapi, pada akhir-akhir ini banyak fenomena yang terjadi mengenai
mulai retaknya kualitas persaudaran sesama umat Muslim. Seperti fenomena yang terjadi di Martapura, Sumatera Selatan yang baru-baru ini terjadi, empat orang rampok dengan tega membunuh tuan rumah dengan senjata sajam di depan keluarga korban. Hal ini, menunjukan mulai berkurangnya kualis persaudaraan sesama umat Muslim.
Dari fenomena di atas, penulis akan membahas mengenai nikmatnya bersaudara ditinjau dari al-Qur’an, Ilmu Islami dan pandangan dari Ilmu Psikologi dan Sosiologi. Untuk membuka wawasan bagi para membaca bahwasanya betapa nikmatnya bersaudara terutama sesama umat Muslim.
B. Rumusan Permasalahan
1. Bagaimana persaudaran menurut Islam?
2. Mengapa persaudaran itu nikmat?
C. Tujuan Pembuatan Makalah
Pembuatan makalah ini sebagai tugaas dari mata kuliah praktek dan ibadah tabligh dan dari segi keilmuwan bertujuan untuk mengetahui paradigma persaudaraan menurut Islam dan mengetahui nikmatnya bersaudara ditinjau dari pandangan Islam, Psikologis, dan Sosiologis.
D. Manfaat Pembuatan Makalah
1. Manfaat Teoritis
Pembuatan makalah ini diharapkan akan bermanfaat bagi wawasan mengenai nikmatnya bersaudara di dalam Islam, dan sebagai informasi bagi Dakwah Islam ditinjau dari segi ilmu pengetahuan.
2. Manfaat Praktis
Hasil dan realisasi pembuatan makalah ini diharapkan, dapat membuka mata hati setiap umat Muslim yang membaca agar menghasilkan perulaku kasih saying terhadap sesama umat Muslim.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Persaudaraan Menurut Islam
Manusia merupakan makhluk sosial, hidup di tengah masyarakat yang individu-individunya memiliki hubungan yang beragam, hubungan perasaan, hubungan sosial kemasyarakatan, hubungan ekonomi, dan hubungan kemanusiaan.
Sejak lahir, seorang anak hidup di tengah-tengah keluarganya, diberikan ikatan rasa cinta, kasih saying, tolong menolong, kesetiaan, dan keikhlasan dengan seluruh anggota keluarga, sehingga ia merasa aman, tentram, dan bahagia berada di tengah-tengah mereka. Kesemua itu muncul dari hati, karena rasa memiliki satu sama lainya, dalam firman Allah SWT QS. An-Nisa ayat 36, mengenai keharusan berbuat baik sesama umat Muslim :
• •
Artinya :
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”.
Dari firman Allah QS. An-Nisa ayat 36, Rijal Hamid berpendapat, berbakti kepada kedua orang tua ibu dan bapak, termasuk salah satu amal yang disukai oleh Allah SWT dan merupakan perintah dari Allah SWT, maka Allah menjanjikan pahala bagi yang melaksanakanya.
Sesama Muslim merupakan saudara, dan sebaiknya untuk selalu saling memilki satu sama lainya. Di dalam persaudaraan terdapat norma dan nilai yang mengatur di dalamnya. Menurut Dadang Hawari, di dalam ajaran agama terkandung nilai–nilai moral, etika dan pedoman hidup yang sehat dan abadi sifatnya.
Berinteraksi sesama manusia, akan menghasilkan persaudaran diantara setiap individu. Dalam proses interaksi terdapat nilai dan norma sosial, nilai merupakan pertimbangan terhadap suatu tindakan, benda, cara untuk mengambil keputusan (bernilai baik atau buruk), indah, religious (nilai ketuhanan). Norma merupakan patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu.
Dengan adanya nilai dan norma di dalam lingkungan sosial, maka akan menjadikan persamaan yang harus ditaati. Persaudaraan atau Ukhuwah ini, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberikan kesan persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.
“barang sispa yang ingin rezekinya dilapangkan dan usianya dipanjangkan maka peliharalah hubungan silaturahmi”( HR. Bukhari dan muslim)
Tidak ada satu pun yang tidak penting dari Silaturahmi, persaudaraan dan persahabatan. Semuanya bermanfaat dan ada gunanya. Demikianlah, setiap orang didunia mempunyai hubungan yang erat antara satu dengan yang lain. Orang-orang yang telah mempunyai hasil dalam hidup mereka, tidak ada kecualinya tentu mengetahui rahasia singkat ini, “ Janganlah membenci orang, janganlah menyusahkan orang dan janganlah merendahkan orang”. Ini karena tidak ada orang yang sama sekali tidak berguna untuk sesuatu hal. Segala sesuatu mempunyai tempat dan kepentingan sendiri dalam kehidupan. Ingatlah bahwa pada saat anda merendahkan seseorang atau sesuatu yang lain, maka akan terlepaslah kesempatan untuk kemajuan itu dari tangan anda.
Janganlah terperangkap oleh kebiasaan-kebiasaan buruk, yakni meunjuk kesalahan-kesalahan orang lain apabila anda tidak mengetahui kekurangan-kekurangan diri anda sendiri. Dengan menceritakan kesalahan orang lain maka tanpa anda sadari, anda sedang menceritakan kekurangan anda sendiri yakni suka membocorkan rahasia orang. Berbicaralah tentang kebaikan orang lain, tidak ada waktu untuk membicarakan keburukannya karena merupakan pemborosan waktu. Hilangkanlah kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak ada gunanya dan berusahalah untuk disenangi orang lain, dengan selalu berusaha menyenangkan orang lain terlebih dahulu.
Carilah sahabat sebanyak mungkin dan janganlah membuat musuh, karena musuh selalu berusaha menghalangi kemajuan anda, dan sifat permusuhan tidak akan pernah member hasil apa-apa. Akan tetapi, keramahan, kesabaran, dan sopan santun merupakan sikap hidup yang selalu menguntungkan.
Islam selalu mengajarkan kepada manusia bahwa belumlah sempurna iman seseorang jika hanya mementingkan hubungannya dengan Allah, tanpa memperat tali persaudaraan dengan sesama manusia Allah berfirman :
•• •
Artinya :
“ mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” ( ali Imran 112)
Dalam ayat tersebut ada pengetian bahwa pokok aturan-aturan yang terpenting bagi seseorang muslim adalah bagaimana dapat mewujudkan hubungan dengan Allah dan menjalin hubungan dengan sesama manusia. Dalam sebuah hadits Rasullulah bersabda “ barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jalailah silaturahmi ” ( HR. Muslim)
Selain itu Allah juga menjanjikan bagi siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rezekinya maka harus memperbanyak silaturahmi. Silaturahmi adalah upaya saling membebaskan kesalahan. Karena itu silaturahmi harus dilakukan secara kontinu bukan hanya pada ssat lebaran saja. Rasullulah mengingatkan “ Tidak sempurna iman seseorang jika berselisih lebih dari tiga hari” Dalam silaturahmi siapa yang pertama kali meminta maaf dan memaafkan kesalahan dari satu pertengkaran maka dialah mujahid besar.
Selain itu Rasullulah bersabda “silaturahmi itu tidak cukup hanya mengulurkan tangan pada orang lain yang mengulurkan tangan kepadamu, tetapi silaturahmi yang paling esensial adalah kalau kamu sudah siap mewujudkan tali persaudaraan dengan orang yang memusuhimu”
Allah tidak pernah menyukai terjadinya dendam kesumat karena dendam adalah musuh iman, kalau masih ada dendam berarti kita tidak beriman, sebab iman dan dendam tidak mungkin bersatu dalam diri manusia.
Allah berfirman
•
Artinya :
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
Allah melarang membenci kehancuran diri dan janganlah karena menolong orang lain, lalu diri sendiri jadi hancur binasa, jika bukan untuk kepentingan Allah SWT.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, bersabda mengenai seseorang yang bermusuhan adalah orang yang paling dibenci Allah, dengan kata lain Allah mengharuskan setiap umat manusia untuk saling memperhatikan satu sama lainya baik dalam keadaan sedih, senang, susah, dan bahagia. Untuk memahami dan mengetahui mengenai ukhuwah/persaudaraan akan dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut nya.
Faedah dari bersaudara ialah membukakan rasa hatinya, kadang-kadang ia lebih dipercaya dari orang tua, orang yang bersaudara biasanya saling mengisi kebutuhan. Menurut Ibnu Muqaffa bahwa persaudaraan yang tulus dan iklas lebih baik dari semua usaha hidup, Ia jadi hiasan dikala miskin, persediaan dikala paceklik dan menolong mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Rasullulah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Muslim “ hendaklah laki-laki itu menolong saudaranya dalam keadaan ia menganiaya ataupun teraniaya. Jika ia sedang menganiaya, hendaklah dilarang, maka itu dapat menolongnya, jika ia sedang teraniaya makan bantulah”.
B. Macam-Macam Ukhuwah Islamiah
Di dalam al-Qur’an, mengenai ukhuwah ini banyak dijelaskan dan klasifikasinya diuraikan, sebagaimana berikut ini :
1. Saudara kandung atau saudara seketurunan, dalam QS. An Nisa ayat 23 :
• • •
Artinya :
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Di dalam QS. An Nisa ayat 23, maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.
2. Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, hal ini berdasarkan QS. Thaha ayat 29-30 :
Artinya :
“Dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun, saudaraku”
3. Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama, terdapat dalam QS. Al A’raf ayat 65:
Artinya :
“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"
4. Saudara semasyarakat, walaupin berselisih paham, terdapat dalam QS. Shad ayat 23 :
• •
Artinya :
“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka Dia berkata: "Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan Dia mengalahkan aku dalam perdebatan".
5. Persaudaraan seagama terdapat dalam QS. Al Hujurat ayat 10 :
•
Artinya :
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.
Quraish Shihab membagi empat macam bentuk ukhuwah Islamiah berdasarkan dalil-dalil di dalam al-Quran, sebagai berikut :
1. Ukhuwah ‘ubuddiyah persaudaraan kesemakhlukkan dan kesetundukkan kepada Allah, maksudnya sesama manusia terutama sesama umat Muslim.
2. Ukhuwah insaniyyah persaudaran seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari ayah dan ibu.
3. Ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaaan.
4. Ukhuwah fi din Al-Islam persaudaraan antar sesama umat Muslim.
C. Faktor-Faktor Penunjang Persaudaraan
Faktor penunjang lahirnya persaudaraan dalam arti luas ataupun sempit adalah persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh pula persaudaraan. Persamaan rasa dan cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan yang hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar “take and give” akan tetapi akan rasa memiliki satu sama lainya.
Dalam firman Allah SWT QS. Hasyr ayat 9 :
Artinya :
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”
Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tentram dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan. Islam mengajarkan dan menekankan hal-hal tersebut, dan menganjurkan mencari titik singgung dan titik temu persaudaraan.
Di dalam ilmu Psikologi Sosial faktor-faktor yang mendasari penunjang persaudaraan adalah sebagai berikut :
1. Faktor Imitasi
Imitasi maksudnya, seorang individu dapat melakukan sesuatu, baik berupa keahlian, kecerdasan, perasaan, kesemua itu dapat dilakukan karena ada contoh yang dilihat sebagai bahan pembelajaran. Gabriel Trade berpendapat, seorang individu yang dapat berbahasa dengan baik dan benar merupakan proses meniru seseorang yang sudah bisa berbahasa.
2. Faktor Sugesti
Sugesti maksudnya, pengaruh yang datang dari psikis individu merupakan stimulus dari diri sendiri maupun dari orang lain. Contohnya, seseorang yang beranggapan dengan mengenal seorang individu yang cerdas, maka dirinya berharap akan menjadi cerdas juga sehingga kebutuhan untuk mengenal lebih dekat individu tersebut cenderung besar.
3. Faktor Identifikasi
Di dalam psikologi, identifikasi merupakan dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Seorang individu, yang telah memiliki persamaan dengan individu lain maka akan merasakan kenyamanan ketika berada di dekatnya, sehingga rasa memilki dan menyayangi akan timbul dengan sendirinya.
D. Persaudaraan Ditinjau Dari Ilmu Psikologi
Manusia diciptakan dengan memilki motif di dalam diri, dalam bahasan makalah ini motif sekunder (rohani) yang menjadi bahasan khusus dalam sub bab ini. Manusia memilki motif sosial, maksudnya kebutuhan akan orang lain di dalam kehidupan nya. Motif merupakan energy dasar yang mendorong tingkah laku individu. Menurut Zakiah Daradjat, kebutuhan sosial ini meliputi, dorongan emosional (kasih sayang, rasa aman), dorongan untuk berprestasi, dorongan untuk dihargai, dorongan rasa ingin tahu, dan dorongan untuk sukses.
Persaudaraan terhadap sesama umat Muslim merupakan bentuk moralitas diri yang tinggi. Kohlberg membagi tiga perilaku dasar moral, di dalamnya terdapat hakikat untuk berbuat baik terhadap sesama makhluk hidup, seperti yang di ungkapkan dalam bahasan sebelumnya di dalam al-Qur’an jauh sebelum pendapat Kohlberg ini ada.
Kohlberg membagi perilaku dasar moral tersebut yaitu :
1. Alturisme
Alturisme merupakan perilaku untuk tidak mementingkan diri sendiri dan memerhatikan kesejateraan orang lain yang diekspresikan dengan perilaku prososial seperti saling berbagi, saling bekerja sama, dan saling membantu.
Allah berfirman dalam QS. Al Maidah ayat 2 :
• • •
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.
2. Kontrol Perilaku Agresivitas
Kontrol perilaku agresivitas adalah menahan diri untuk menyakiti seseorang, dengan kata-kata, perbuatan, yang disengaja maupun tidak disengaja. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 190 :
Artinya :
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
3. Menerapkan Prinsip Keadilan Sosial
Islam mengajarkan bahwa manusia harus berusaha untuk berbuat adil dalam segala bidang, meskipun sulit. Di dalam al-Qur’an QS. An Nisa ayat 105 dinyatakan bahwa manusia harus mengambil keputusan adil :
••
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat”.
Dari sifat dasar moralitas, dapat di ambil kesimpulan bahwa di dalam persaudaraan terdapat nilai-nilai yang baik, dimana menekankan juga sebagai sesama manusia merupakan makhluk yang saling membutuhkan. Senada dengan kata mutiara dari Vikas Malkani Deepak Chopra “Carilah, dan anda akan menemukan, mintalah, dan anda akan diberi, ketuklah, dan pintu akan dibuka untuk anda”
Manusia merupakan makhluk sosial, hidup di tengah masyarakat yang individu-individunya memiliki hubungan yang beragam, hubungan perasaan, hubungan sosial kemasyarakatan, hubungan ekonomi, dan hubungan kemanusiaan.
Sejak lahir, seorang anak hidup di tengah-tengah keluarganya, diberikan ikatan rasa cinta, kasih saying, tolong menolong, kesetiaan, dan keikhlasan dengan seluruh anggota keluarga, sehingga ia merasa aman, tentram, dan bahagia berada di tengah-tengah mereka. Kesemua itu muncul dari hati, karena rasa memiliki satu sama lainya, dalam firman Allah SWT QS. An-Nisa ayat 36, mengenai keharusan berbuat baik sesama umat Muslim :
• •
Artinya :
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”.
Dari firman Allah QS. An-Nisa ayat 36, Rijal Hamid berpendapat, berbakti kepada kedua orang tua ibu dan bapak, termasuk salah satu amal yang disukai oleh Allah SWT dan merupakan perintah dari Allah SWT, maka Allah menjanjikan pahala bagi yang melaksanakanya.
Sesama Muslim merupakan saudara, dan sebaiknya untuk selalu saling memilki satu sama lainya. Di dalam persaudaraan terdapat norma dan nilai yang mengatur di dalamnya. Menurut Dadang Hawari, di dalam ajaran agama terkandung nilai–nilai moral, etika dan pedoman hidup yang sehat dan abadi sifatnya.
Berinteraksi sesama manusia, akan menghasilkan persaudaran diantara setiap individu. Dalam proses interaksi terdapat nilai dan norma sosial, nilai merupakan pertimbangan terhadap suatu tindakan, benda, cara untuk mengambil keputusan (bernilai baik atau buruk), indah, religious (nilai ketuhanan). Norma merupakan patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu.
Dengan adanya nilai dan norma di dalam lingkungan sosial, maka akan menjadikan persamaan yang harus ditaati. Persaudaraan atau Ukhuwah ini, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberikan kesan persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.
“barang sispa yang ingin rezekinya dilapangkan dan usianya dipanjangkan maka peliharalah hubungan silaturahmi”( HR. Bukhari dan muslim)
Tidak ada satu pun yang tidak penting dari Silaturahmi, persaudaraan dan persahabatan. Semuanya bermanfaat dan ada gunanya. Demikianlah, setiap orang didunia mempunyai hubungan yang erat antara satu dengan yang lain. Orang-orang yang telah mempunyai hasil dalam hidup mereka, tidak ada kecualinya tentu mengetahui rahasia singkat ini, “ Janganlah membenci orang, janganlah menyusahkan orang dan janganlah merendahkan orang”. Ini karena tidak ada orang yang sama sekali tidak berguna untuk sesuatu hal. Segala sesuatu mempunyai tempat dan kepentingan sendiri dalam kehidupan. Ingatlah bahwa pada saat anda merendahkan seseorang atau sesuatu yang lain, maka akan terlepaslah kesempatan untuk kemajuan itu dari tangan anda.
Janganlah terperangkap oleh kebiasaan-kebiasaan buruk, yakni meunjuk kesalahan-kesalahan orang lain apabila anda tidak mengetahui kekurangan-kekurangan diri anda sendiri. Dengan menceritakan kesalahan orang lain maka tanpa anda sadari, anda sedang menceritakan kekurangan anda sendiri yakni suka membocorkan rahasia orang. Berbicaralah tentang kebaikan orang lain, tidak ada waktu untuk membicarakan keburukannya karena merupakan pemborosan waktu. Hilangkanlah kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak ada gunanya dan berusahalah untuk disenangi orang lain, dengan selalu berusaha menyenangkan orang lain terlebih dahulu.
Carilah sahabat sebanyak mungkin dan janganlah membuat musuh, karena musuh selalu berusaha menghalangi kemajuan anda, dan sifat permusuhan tidak akan pernah member hasil apa-apa. Akan tetapi, keramahan, kesabaran, dan sopan santun merupakan sikap hidup yang selalu menguntungkan.
Islam selalu mengajarkan kepada manusia bahwa belumlah sempurna iman seseorang jika hanya mementingkan hubungannya dengan Allah, tanpa memperat tali persaudaraan dengan sesama manusia Allah berfirman :
•• •
Artinya :
“ mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” ( ali Imran 112)
Dalam ayat tersebut ada pengetian bahwa pokok aturan-aturan yang terpenting bagi seseorang muslim adalah bagaimana dapat mewujudkan hubungan dengan Allah dan menjalin hubungan dengan sesama manusia. Dalam sebuah hadits Rasullulah bersabda “ barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jalailah silaturahmi ” ( HR. Muslim)
Selain itu Allah juga menjanjikan bagi siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rezekinya maka harus memperbanyak silaturahmi. Silaturahmi adalah upaya saling membebaskan kesalahan. Karena itu silaturahmi harus dilakukan secara kontinu bukan hanya pada ssat lebaran saja. Rasullulah mengingatkan “ Tidak sempurna iman seseorang jika berselisih lebih dari tiga hari” Dalam silaturahmi siapa yang pertama kali meminta maaf dan memaafkan kesalahan dari satu pertengkaran maka dialah mujahid besar.
Selain itu Rasullulah bersabda “silaturahmi itu tidak cukup hanya mengulurkan tangan pada orang lain yang mengulurkan tangan kepadamu, tetapi silaturahmi yang paling esensial adalah kalau kamu sudah siap mewujudkan tali persaudaraan dengan orang yang memusuhimu”
Allah tidak pernah menyukai terjadinya dendam kesumat karena dendam adalah musuh iman, kalau masih ada dendam berarti kita tidak beriman, sebab iman dan dendam tidak mungkin bersatu dalam diri manusia.
Allah berfirman
•
Artinya :
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
Allah melarang membenci kehancuran diri dan janganlah karena menolong orang lain, lalu diri sendiri jadi hancur binasa, jika bukan untuk kepentingan Allah SWT.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, bersabda mengenai seseorang yang bermusuhan adalah orang yang paling dibenci Allah, dengan kata lain Allah mengharuskan setiap umat manusia untuk saling memperhatikan satu sama lainya baik dalam keadaan sedih, senang, susah, dan bahagia. Untuk memahami dan mengetahui mengenai ukhuwah/persaudaraan akan dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut nya.
Faedah dari bersaudara ialah membukakan rasa hatinya, kadang-kadang ia lebih dipercaya dari orang tua, orang yang bersaudara biasanya saling mengisi kebutuhan. Menurut Ibnu Muqaffa bahwa persaudaraan yang tulus dan iklas lebih baik dari semua usaha hidup, Ia jadi hiasan dikala miskin, persediaan dikala paceklik dan menolong mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Rasullulah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Muslim “ hendaklah laki-laki itu menolong saudaranya dalam keadaan ia menganiaya ataupun teraniaya. Jika ia sedang menganiaya, hendaklah dilarang, maka itu dapat menolongnya, jika ia sedang teraniaya makan bantulah”.
B. Macam-Macam Ukhuwah Islamiah
Di dalam al-Qur’an, mengenai ukhuwah ini banyak dijelaskan dan klasifikasinya diuraikan, sebagaimana berikut ini :
1. Saudara kandung atau saudara seketurunan, dalam QS. An Nisa ayat 23 :
• • •
Artinya :
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Di dalam QS. An Nisa ayat 23, maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.
2. Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, hal ini berdasarkan QS. Thaha ayat 29-30 :
Artinya :
“Dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun, saudaraku”
3. Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama, terdapat dalam QS. Al A’raf ayat 65:
Artinya :
“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"
4. Saudara semasyarakat, walaupin berselisih paham, terdapat dalam QS. Shad ayat 23 :
• •
Artinya :
“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka Dia berkata: "Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan Dia mengalahkan aku dalam perdebatan".
5. Persaudaraan seagama terdapat dalam QS. Al Hujurat ayat 10 :
•
Artinya :
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.
Quraish Shihab membagi empat macam bentuk ukhuwah Islamiah berdasarkan dalil-dalil di dalam al-Quran, sebagai berikut :
1. Ukhuwah ‘ubuddiyah persaudaraan kesemakhlukkan dan kesetundukkan kepada Allah, maksudnya sesama manusia terutama sesama umat Muslim.
2. Ukhuwah insaniyyah persaudaran seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari ayah dan ibu.
3. Ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaaan.
4. Ukhuwah fi din Al-Islam persaudaraan antar sesama umat Muslim.
C. Faktor-Faktor Penunjang Persaudaraan
Faktor penunjang lahirnya persaudaraan dalam arti luas ataupun sempit adalah persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh pula persaudaraan. Persamaan rasa dan cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan yang hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar “take and give” akan tetapi akan rasa memiliki satu sama lainya.
Dalam firman Allah SWT QS. Hasyr ayat 9 :
Artinya :
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”
Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tentram dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan. Islam mengajarkan dan menekankan hal-hal tersebut, dan menganjurkan mencari titik singgung dan titik temu persaudaraan.
Di dalam ilmu Psikologi Sosial faktor-faktor yang mendasari penunjang persaudaraan adalah sebagai berikut :
1. Faktor Imitasi
Imitasi maksudnya, seorang individu dapat melakukan sesuatu, baik berupa keahlian, kecerdasan, perasaan, kesemua itu dapat dilakukan karena ada contoh yang dilihat sebagai bahan pembelajaran. Gabriel Trade berpendapat, seorang individu yang dapat berbahasa dengan baik dan benar merupakan proses meniru seseorang yang sudah bisa berbahasa.
2. Faktor Sugesti
Sugesti maksudnya, pengaruh yang datang dari psikis individu merupakan stimulus dari diri sendiri maupun dari orang lain. Contohnya, seseorang yang beranggapan dengan mengenal seorang individu yang cerdas, maka dirinya berharap akan menjadi cerdas juga sehingga kebutuhan untuk mengenal lebih dekat individu tersebut cenderung besar.
3. Faktor Identifikasi
Di dalam psikologi, identifikasi merupakan dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Seorang individu, yang telah memiliki persamaan dengan individu lain maka akan merasakan kenyamanan ketika berada di dekatnya, sehingga rasa memilki dan menyayangi akan timbul dengan sendirinya.
D. Persaudaraan Ditinjau Dari Ilmu Psikologi
Manusia diciptakan dengan memilki motif di dalam diri, dalam bahasan makalah ini motif sekunder (rohani) yang menjadi bahasan khusus dalam sub bab ini. Manusia memilki motif sosial, maksudnya kebutuhan akan orang lain di dalam kehidupan nya. Motif merupakan energy dasar yang mendorong tingkah laku individu. Menurut Zakiah Daradjat, kebutuhan sosial ini meliputi, dorongan emosional (kasih sayang, rasa aman), dorongan untuk berprestasi, dorongan untuk dihargai, dorongan rasa ingin tahu, dan dorongan untuk sukses.
Persaudaraan terhadap sesama umat Muslim merupakan bentuk moralitas diri yang tinggi. Kohlberg membagi tiga perilaku dasar moral, di dalamnya terdapat hakikat untuk berbuat baik terhadap sesama makhluk hidup, seperti yang di ungkapkan dalam bahasan sebelumnya di dalam al-Qur’an jauh sebelum pendapat Kohlberg ini ada.
Kohlberg membagi perilaku dasar moral tersebut yaitu :
1. Alturisme
Alturisme merupakan perilaku untuk tidak mementingkan diri sendiri dan memerhatikan kesejateraan orang lain yang diekspresikan dengan perilaku prososial seperti saling berbagi, saling bekerja sama, dan saling membantu.
Allah berfirman dalam QS. Al Maidah ayat 2 :
• • •
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.
2. Kontrol Perilaku Agresivitas
Kontrol perilaku agresivitas adalah menahan diri untuk menyakiti seseorang, dengan kata-kata, perbuatan, yang disengaja maupun tidak disengaja. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 190 :
Artinya :
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
3. Menerapkan Prinsip Keadilan Sosial
Islam mengajarkan bahwa manusia harus berusaha untuk berbuat adil dalam segala bidang, meskipun sulit. Di dalam al-Qur’an QS. An Nisa ayat 105 dinyatakan bahwa manusia harus mengambil keputusan adil :
••
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat”.
Dari sifat dasar moralitas, dapat di ambil kesimpulan bahwa di dalam persaudaraan terdapat nilai-nilai yang baik, dimana menekankan juga sebagai sesama manusia merupakan makhluk yang saling membutuhkan. Senada dengan kata mutiara dari Vikas Malkani Deepak Chopra “Carilah, dan anda akan menemukan, mintalah, dan anda akan diberi, ketuklah, dan pintu akan dibuka untuk anda”
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai sesama makhluk hidup, sebaiknya harus saling memperhatikan, saling menyayangi, pada hakekatnya baik sesama manusia, seagama, seiman, kenal maupun tak kenal, dan kepada hewan, tumbuhan, serta makhluk hidup lainya.
B. Saran
Meningkatkan tali silaturahim dengan saling member kabar, murah senyum, dan saling membantu. Membuat kajian di bidang agama sebagai pertemuan sesama manusia khususnya, untuk mempererat tali silaturahim seperti mengadakan Majelis Ta’lim. Untuk sesama makhluk dengan mengadakan gotong royong cinta lingkungan.
Sebagai sesama makhluk hidup, sebaiknya harus saling memperhatikan, saling menyayangi, pada hakekatnya baik sesama manusia, seagama, seiman, kenal maupun tak kenal, dan kepada hewan, tumbuhan, serta makhluk hidup lainya.
B. Saran
Meningkatkan tali silaturahim dengan saling member kabar, murah senyum, dan saling membantu. Membuat kajian di bidang agama sebagai pertemuan sesama manusia khususnya, untuk mempererat tali silaturahim seperti mengadakan Majelis Ta’lim. Untuk sesama makhluk dengan mengadakan gotong royong cinta lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an
Sitorus, Sosiologi SMU, Jakarta, Erlangga, 1997
Mujib, Abdul, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, Jakarta, Rajawali Pers, 2007
Hasan, Aliah Purwakania, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta, Rajawali Pers, 2008
Shihab, Quraish, Wawasan Al Qur’an, Bandung, Mizan, 2004
MZ, Labib, Himpunan Hadits Pilihan Shohih Bukhori, Surabaya, Tiga Dua, 1993
Malkani, Vikas, The Quantum Conscious Living, New York, St. Martin, 2007. Diterjemahlan Oleh Ahmad Kahfi, Meraih Kebahagian Dengan Psikologi Kesadaran, Yogyakarta, Baca, Cet ke 1, 2008
Idianto, Sosiologi SMA, Jakarta, Erlangga, 2004
Najati, Utsman, The Ultimate Psychology Psikologi Sempurna ala Nabi Saw, Terjm. Hedi Fajar, Judul Asli : Al-Hadits an-Nabawi wa Ilm an-Nafs, Bandung, Pustaka Hidayah, 2008
Jaelani A.F, Membuka Pintu Rezeki, Jakarta, Gema Insane Press, 1999
Kahar, Masyhur, Membina Moral Dan Akhlak, Jakarta, Rineka Cipta, 1994