Kamis, 31 Mei 2012

Motivasi Bagi Setiap Mahasiswa

Add caption


1.    Perjelas Motivasi dan Target

Hal yang pertama dan utama yang dilakukan oleh seseorang yang ingin kuliah di Perguruan Tinggi adalah memperjelas motivasi dan target yang ingin diraihnya. Sebagai mahasiswa seharusnya yang menjadi “niat”  (motivasi intrinsic) untuk kuliah bukan “mencari kekuasaan”, supaya dikatakan hebat, punya status sosial berpendidikan tinggi, atau bukan hanya sekedar  mencari teman, mencari pacar, atau calon suami / isteri ; tetapi “motif berprestasi”. Anda harus punya tekad :
“AKU KULIAH UNTUK MENCARI ILMU, MENCARI SKILLNESS” sebab aku sadar “ILMU ITU MENJAGA” (Al- Ilmu Harisuu), “ILMU ITU MERUPAKAN KEKUATAN” (knowledge is  power).

2.    Memenej Waktu
    Gunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin. Saudara perlu membuat “time schedule” mingguan.

3.    Membuat Catatan
    Membuat catatan dapat diatasi dengan membuat skema-skema pendek dan hanya membubuhkan kata-kata kunci (the key word). Catatan perkuliahan diperbaiki secepat mungkin sebelum memasuki topik baru.

4.    Diskusi Kelas
Dari forum diskusi akan terjadi “konvergensi” (pertemuan) ide antara mahasiswa dengan  dosen dan sekaligus melatih konsep “fikiran” yang sistematis, objektif, dan analisis. Seorang ahli bernama Robinson memberikan tips yaitu :

    Jangan takut membuat kesalahan, “coba saja” (Jarrib faqod).
    Antisipasilah diskusi dengan mempersiapkan diri
    Memberikan ide disaat dosen atau moderator bertanya.
    Jadilah sebagai pembicara pertama.
    Usahakanlah bertanya.

5.    Ujian
Tidak perlu takut untuk menghadapi ujian. Ujian hanya merupakan “alat uji” untuk melihat tingkat prestasi saudara selama proses belajar mengajar. Amati soal ujian sebelum mengerjakan tes, dan jangan lupa berdo’a.

6.    Penutup
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat menjadi penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta (mendampingi) orang-orang yang sabar. (QS.2 : 153)”
“…..Kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki, dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui (QS.12 : 76)”
“Wahai manusia, hendaklah kalian peduli kepada ilmu, karena sesungguhnya Allah mempunyai pakaian yang disukai-Nya. Barang siapa mencari salah satu bab ilmu, Allah menutupinya dengan pakaian-Nya. Jika ia mengerjakan dosa, Allah menegurnya agar dia tidak mencabut pakaian-Nya darinya hingga ia meninggal dunia tetap mengenakan pakaian tersebut. (Umar bin Khattab r.a.) “
“Dan sedikit sekali dari hamba–hamba – Ku yang bersyukur (QS. Saba’ : 13 ) “



Senin, 21 Mei 2012

Seni Menepis Kesedihan

created by. Iredho Fani Reza, Palembang, Senin 21 Mei 2012, 23:10 Wib

Seni menepis kesedihan merupakan buah karya dari filosof muslim pertama al-kindi yang ada kaitanya dengan etika. Di dalam karya nya ini al-kindi mengkaitkan suatu penyakit jiwa yang biasa di sebut ”kesedihan”, di mulai dari sebab, sifat dasar dan mengatasinya. Al-kindi berkiblat pada buku ethical theories in islam karangan oleh majid fakhry, dan juga yang berkenaan dengan seni menepis kesedihan.

Menurut al-kindi dalam buku nya mengungkapkan kesedihan merupakan ”suatu penyakit jiwa yang terjadi karena hilangnya yang dicinta dan luputnya yang di damba”. Menurut al-kindi juga tidak ada seorang manusia pun yang dapat melepaskan dirinya dari kesedihan dan kesengsaraan di dunia yang fana, dimana tidak ada seorang pun yang abadi.

Dalam kehidupan duniawi ini tak lepas oleh materi baik harta maupun jabatan. Semua itu hanyalah benda-benda fana yang abadi atau permanen dalam waktu, tidak akan kekal untuk selamanya. Oleh karena itu kita harus berjuang untuk menghindarkan kesedihan yang tak perlu dengan cara mengembangkan sikap merasa puas dan mengakui, melaui observasi yang jelas, yang mana bahwasanya ”keinginan terhadap objek-objek duniawi bukanlah sesuatu yang niscaya melainkan kebiasaan atau karena penggunaanya yang keseringan”.

Oleh karena itu obat dari ”penyakit sedih” ini bukanlah obat-obatan terlarang, racun dan sebagainya. Melainkan dalam ketabahan moral serta tawakal, yang pengaplikasianya harus berjalan secara bertahap dan metodis, sampai kebiasaan tersebut sepenuhnya tertanam di dalam jiwa kita. Salah satu ”obat” sederhana nya adalah mengamati sifat dasar dari kesedihan itu, sebab dari muncul nya ; apakah tibul dari diri kita sendiri atau dari orang lain.

Apabila sebab dari ”penyakit sedih” itu timbul dari diri kita sendiri, maka kewajiban kita adalah mencoba menahan diri dari melakukan apa yang telah menimbulkan kesedihan tersebut. Dan apabila timbul dari orang lain ; kewajiban kita adalah memperkirakan apakah orang lain tersebut dapat kita hindarkan atau tidak. Jika bisa maka kewajiban kita melakukannya akan tetapi bila tidak bisa dan masih mendekati diri kita, maka sebaiknya kita jang terus menerus jatuh dalam jurang kesedihan, dan sebaiknya kita harus tetap sabar dan tabah dalam menghadapinya dan berusaha bangkit perlahan dari jurang kesedihan tersebut.

Cara yang lain dari hal yang diatas adalah mengingat bahwa kehilangan apapun yang menimpa kita, kita harus lihat bahwa mungkin hal tersebut dapat di derita juga oleh orang banyak di sekitar kita. Dan pada akhirnya mereka semua mau menerima kehilangan tersebut.
Ada juga cara lain, dengan mengingat bahwa ”keinginan untuki sama sekali tidak ditimpa oleh bencana sama dengan menginkan bahwa kita tidak pernah ada”. Karena bencana itu akibat dari logis kefanaan segala makhluk yang ada, sehingga menginginkan apa yang ada secara alamiah agar tidak ada, sama dengan menginginkan sesuatu yang tidak mungkin. Maka bila menginginkan sesuatu yang tidak mungkin di dapat maka pasti akan mendapatkan kekecewaan dan akan terperosok dalam keadaan yang menyedihkan.

Sifat sedih karena takut kehilangan material, ini merupakan penyakit iri dan peli karena tidak mau melepaskan sesuatu yang akan hilang berbentuk material. Selain itu material ini merupakan pinjaman dari tuhan, pemilik sejatinya, yang berhak kapan saja menariknya. Karena hal tersebut mereka yang merasakan kehilangan dalam bentuk material dan merasakan kesedihan maka mereka itu merupakan orang yang tidak tau arti bersyukur atas hak istimewa yang telah diberikan kepada mereka secara sementara.

Socrates pernah menjawab sebuah pertanyaan ”mengapa kamu tidak pernah bersedih?” socrates menjawab ”karena ia tidak pernah memiliki apa pun yang kehilanganya bisa menimbulkan kesedihan” .jadi benda material hanyalah titipan dan pemberian dari tuhan atas apa yang telah di usahakan seseorang di dunia yang fana ini. Dan hal tersebut seiring waktu akan hilang dan lenyap seketika. Bila hal tersebut terjadi maka sangat bodohlah orang tersebut bila merasakan kesedihan yang mendalam dikarenakan hal tersebut. Karen sebabterjadinya kesedihan yang sejati adalah pengasingan dari ”tempat tinggal kita yang sejati” dimana di alam spiritual, yang tidak ada bencana, pelucutan maupun kehilangan yang akan menimpa kita.

Tanggapan :

1.     Penyakit sedih dalam mengobati nya bukanlah dengan obat-obatan akan tetapi denagn cara ketabahan moral dan bertawakal.
2. mengobati penyakit sedih juga dapat dengan mengamati sebab terjadinya, apakah datang dari diri kita ataupun dari orang lain, sehingga dapat kita obati dengan cara yang berbeda.
3.     di dalam kehidupa, jangan mengagungkan material sebagai segalanya karena bila suatu saat materi tersebut dapat hilang seketika dan dapat menjadikan kita merasakan kehilangan pada saat seperti itu kita harus sabar dan ingat bahwa segala sesuatu itu datang dari nikmat Tuhan.
4.     jangan bersedih dengan apa yang kita dapatkan, terima apa adanya suatu saat akan datang yang lebih baik lagi.
5.    Syukuri nikmat yang ada.

Batasan Remaja

Created by. Iredho Fani Reza, Senin 21 Mei 2012, Palembang, 22:50 Wib
I.    PENGERTIAN DAN BATASAN REMAJA:

Remaja adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan individu yang berada di antara masa anak-anak dan masa dewasa dan merupakan masa transisi dari masa anak-anak menjadi dewasa.   Sedangkan di negara kita ada yang menggunakan istilah “akil baliq”,  pubertas dan yang paling banyak secara umum menyebutnya remaja.    Pada umumnya orang tua dan pendidik cenderung menyebutnya remaja daripada remaja puber atau remaja adolesen. 

Secara umum sering kali dengan gampang orang mendefinisikan remaja sebagai periode transisi antara anak-anak ke masa dewasa.   Dalam kenyataannya mendefinisikan remaja batasan-batasannya tidaklah semudah itu. Mendefinisikan remaja untuk masyarakat Indonesia maupun secara umum cukup sulit, ini karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat dan tingkatan sosial-ekonomi maupun pendidikan yang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda.  Namun demikian, sebagai batasan remaja ada yang mengatakan dengan menggunakan batasan usia 11 – 24 tahun.   Pertimbangannya adalah sebagai berikut:

1.    Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder untuk kriteria fisik mulai nampak.
2.    Pada sebagian besar masyarakat Indonesia, menurut agama dan adat usia 11 tahun sudah dianggap akil baliq sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak.
3.    Pada masa usia tersebut 11 – 24 tahun, mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa yang bisa dilihat seperti tercapainya identitas diri (ego identity menurut Erik Erikson).   Menurut para pakar psikologi, ini juga ditandai tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual (menurut Freud) dan juga tercapainya puncak perkembangan kognitif (Piaget) maupun moral (Kohlberg).
4.    Batas usia 24 tahun digunakan sebagai batas maksimal, guna memberi kesempatan bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua dimana secara adat/tradisi, belum memiliki hak-hak penuh sebagai orang dewasa.  Dengan kata lain, orang-orang yang sampai batas usia 24 tahun belum dapat memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial maupun psikologis, masih bisa digolongkan sebagai remaja.    Dengan perkembangan dunia dan tuntutan persyaratan pekerjaan dengan adanya globalisasi ekonomi, golongan ini cukup banyak ada di Indonesia terutama di kalangan kelas menengah ke atas.  Tuntutan sekolah S1 yang semula dianggap cukup seperti dialami orang tuanya dulu, sekarang orang tua menginginkan pendidikan setinggi-tingginya, baik di dalam maupun di luar negeri sebelum menikah.   Tuntutan masyarakat modern, pernikahan dilakukan setelah sekolah yang diidamkan selesai, bahkan menunggu setelah mendapatkan pekerjaan. Kita juga tidak memungkiri kenyataan banyak orang yang mencapai kedewasaannya sebelum usia tersebut.
5.    Kita juga harus melihat pentingnya status perkawinan di masyarakat kita karena arti perkawinan masih dianggap sangat penting dalam menentukan apakah seseorang itu bisa diklasifikasikan sebagai masih remaja atau dewasa penuh.  Pada usia berapapun, seorang yang sudah menikah, diangap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.   Karena masalah ini, kita hanya membicarakan dan membatasi definisi remaja bagi yang belum menikah.           

Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait seperti biologi dan ilmu faal, remaja dikenal sebagai suatu perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya.   Secara anatomis, alat-alat kelamin khususnya keadaan tubuh pada umumnya mencapai bentuknya yang sempurna dan secara faal alat-alat kelamin tersebut sudah befungsi secara sempurna.   Pada akhir perkembangan fisik ini, seorang pria yang berotot dan berkumis/berjanggut mampu menghasilkan beberapa ratus juta sel mani (spermatozoa) setiap kali ia berejakulasi atau seorang wanita yang payudaranya dan berpinggul besar yang setiap bulannya mengeluarkan sebuah sel telur dari indung telurnya.

Masa pematangan fisik berjalan kurang lebih 2 tahun dan biasanya pada wanita dihitung mulai haid pertama dan pada laki-laki, mengalami mimpi basahnya yang pertama pada saat mengeluarkan air mani pada waktu tidur.   Masa 2 tahun ini disebut masa pubertas atau berarti usia kedewasaan dan masa pertumbuhan rambut di daerah tulang pubic di wilayah kemaluan.   Hanya persisnya pada usia berapa masa puber ini dimulai sulit ditetapkan karena cepat lambatnya haid atau mimpi basah yang pertama sangat tergantung pada kondisi tubuh masing-masing individu.  Misalnya, ada anak perempuan yang sudah memperoleh haid  pada umur 9 atau 10 tahun, tetapi sebaliknya ada yang baru memperolehnya pada usia 17 tahun. 

Haid pertama tampaknya ada hubungannya dengan perkembangan masyarakat, sebuah penelitian di Perancis menunjukkan makin menurun pada tahun-tahun terakhir.  Kita lihat tahun 1841 rata-rata usia haid 14.8 tahun yang terus menurun pada tahuin 1974 menjadi 12.8 tahun dan diproyeksikan pada tahun 2030 menjadi rata-rata 11 tahun saja.  Menurut penelitian tersebut, hal ini berhubungan dengan kemajuan dari keadaan lingkungan, terutama  keadaan gizi yang semakin baik dan mempercepat pertumbuhan organ-organ manusia.   Sementara peneliti lain berpendapat gejala menurunnya usia untuk haid pertama disebabkan oleh hubungan antar-jenis yang serba boleh (permisif) sehingga mempercepat kematangan tubuhnya. Untuk pria, penelitian belum banyak dilakukan, namun demikian hal yang serupa pada wanita kiranya juga terjadi pada pria.

Sehubungan dengan hal yang di atas, kalau kita menentukan titik awal masa remaja saja sudah cukup sulit, apalagi menentukan titik akhirnya tentunya akan lebih sulit lagi karena remaja dalam artian yang luas lebih luas cakupannya dari pada masa puber itu sendiri.  Remaja dalam arti adolescence (Inggris) artinya tumbuh ke arah kematangan atau menjadi dewasa, tidak hanya berarti kematangan fisik tetapi terutama kematangan sosial-psikologis (sosial, mental, emosional).

Dalam hubungan kematangan sosial-psikologis, sulit mencari definisi remaja secara universal.   Remaja dalam artian psikologis yang merupakan fokus studi kita sangat berhubungan  dengan kehidupan dan keadaan suatu masyarakat.  Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dan berhubungan dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, tetapi berada dalam tingkatan yang sama, minimal dalam masalah hak.  Batasan remaja menurut World Health Organization (WHO), definisinya ditentukan oleh 3 kriteria, biologik, psikologik, dan sosial ekonomi.   Definisi WHO tentang masa remaja adalah sebagai berikut:            

1.    Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2.    Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3.    Terjadi peralihan dan ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Dari batasan di atas, batas usia masih kabur.  Pada tahun-tahun berikutnya, definisi ini berkembang ke arah yang lebih operasional.  WHO menetapkan batasan usia remaja adalah 10 – 20 tahun.   Ini dilihat dari kegiatan WHO mengenai kesehatan, kehamilan dalam usia-usia tersebut mempunyai risiko yang lebih tinggi (kesulitan waktu melahirkan, sakit/cacat/kematian bayi/ibu) daripada kehamilan dalam usia-usia di atasnya.   Walaupun definisi  ini terutama didasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) wanita, batasan tersebut juga berlaku bagi remaja pria, yaitu remaja awal (10 –14 tahun) dan remaja akhir (15 – 20 tahun).   Sementara itu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sendiri mempunyai kriteria sendiri dan menetapkan batas usia 15 – 24 tahun untuk remaja sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka  keputusan mereka menetapkan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional.   Di Indonesia, batasan pemuda yang mendekati batasan PBB tentang pemuda  dikemukakan dalam Sensus Penduduk 1980, yaitu 14 – 24 tahun.

Dalam kenyataannya, orang-orang yang sama berada dalam satu  kurun usia, mempunyai keadaan sosial-psikologik yang berbeda-beda.   Hal ini bisa dilihat dari kenyataan yang ada di masyarakat, sebagian sudah menikah, sebagian belum, sebagian sudah berkerja, yang lainnya belum, dan sebagian sudah dewasa secara kejiwaan, yang lain belum.  

Berikut ini pendapat-pendapat para ahli yang berbeda-beda mengenai batasan usia remaja sebagai perbandingan dan membuka wawasan kita:

1.    Elizabeth B. Harlock : Remaja awal: 13/14  - 17 tahun.  Remaja akhir: 17  - 21 tahun.  Selanjutnya, batasan usia ini akan kita gunakan sebagai referensi.
2.    Drs. M.A. Priyatno, SH yang membahas kenakalan remaja dari segi agama Islam: 13 – 21 tahun.
3.    Dra. Singgih Gunarsa & suami:  12 – 22 tahun.
4.    Dra. Susilowindardini menggunakan literatur Amerika: Remaja awal: 13 – 17 tahun.  Remaja akhir: 17 – 21 tahun.
5.    Dr. Winarno Surachmad:  + 12 – 22 tahun. 

II.    TAHAPAN RENTANG KEHIDUPAN

Sebelum melangkah lebih lanjut mengenai masa remaja dan untuk lebih mengetahui kesinambungan dengan masa-masa yang lain sebelum dan sesudah masa remaja, berikut ini adalah kutipan dari Elizabeth B. Hurlock mengenai bentuk-bentuk perkembangan dan pola-pola perilaku yang tampak khas bagi usia-usia tertentu.  Kutipan Harlock ini diambil dari buku Drs. Sudarsono S.H., M.Si. berjudul Kenakalan Remaja terbitan 2004 dan buku Drs. H. Panut Panuju dan Ida Umami S.Ag. berjudul Psikologi Remaja terbitan tahun 1999.   Rentang kehidupan ini sedikit berbeda dengan buku terjemahan Psikologi Perkembangan.  Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi Kelima, karangan Elizabeth B. Harlcok yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga.    11 rentang kehidupan yang dimaksud adalah:

1.    Prenatal : Saat konsepsi sampai lahir.
2.    Masa neonatus : Kelahiran sampai  akhir minggu kedua.
3.    Masa bayi : Akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4.    Masa kanak-kanak awal : Dua sampai enam tahun.
5.    Masa kanak-kanak akhir : Enam sampai sepuluh atau  sebelas tahun.
6.    Masa puber (pramasa remaja/preadolescence) : Sepuluh atau duabelas sampai tigabelas atau empat belas tahun.
7.    Masa remaja awal: Tigabelas atau empatbelas tahun sampai tujuhbelas tahun.
8.    Masa remaja akhir: Dari tujuhbelas tahun sampai duapuluh satu tahun.
9.    Masa dewasa awal: Duapuluh satu tahun sampai empat puluh tahun.
10.    Masa setengah baya/pertengahan: Empatpuluh sampai enampuluh tahun.
11.    Masa tua/usia lanjut: Enam puluh tahun sampai meninggal dunia.

Seperti kita ketahui para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda, namun kalau kita melihat pembagian rentangan usia di atas, terlihat jelas rentangan usia remaja antara 13-21 tahun, yang dibagi menjadi masa remaja awal usia 13/14 tahun sampai 17 tahun dan remaja akhir 17 sampai 21 tahun.

III.    Presentasi Populasi Remaja di Indonesia

Berdasarkan data data dari Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui bahwa  satu dari 4 penduduk Indonesia adalah individu berusia 10 – 24 tahun.  Dengan demikian, remaja merupakan kelompok umur terbesar dari sruktur penduduk Indonesia, sehingga remaja perlu mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah, masyarakat, dan keluarga.  Kegiatan yang perlu diberikan untuk mengarahkan mereka ke hal-hal yang positif adalah kegiatan yang mengandung unsur kreatifitas remaja sebagai sarana untuk menyalurkan bakat dan kreasi remaja, dan sebagai sarana hiburan dan  komunikasi antar remaja.   Kegiatan dimaksud bisa berupa hal-hal yang positif seperti lomba menyanyi, mode show, lomba melukis, marching band, olah raga, dll.     

    Sampai saat ini masyarakat masih cenderung memberikan penilaian yang negatif tentang remaja, masa remaja sering dipandang sebagai masa yang paling sulit dibandingkan dengan masa lainnya.   Kasus-kasus yang sering dijumpai adalah kebut-kebutan, penyalahgunaan narkotika, dan hal-hal lain yang berkonotasi negatif.      Namun demikian, kita juga tidak boleh menutup mata atas adanya remaja yang memiliki prestasi positif dalam kurun umur remaja baik karena keinginannya sendiri maupun pengarahan dari orang tuanya, misalnya saja: Sherina (penyanyi), Agnes Monica (Bintang Sinetron),  

IV.  TAHUN-TAHUN MASA REMAJA

Masa remaja dibagi menjadi 2 bagian, yaitu remaja awal dan remaja akhir. Garis pemisah antara remaja awal dan remaja akhir ditentukan di sekitar usia 17 tahun, usia dimana rata-rata setiap remaja memasuki Sekolah Menengah Atas.  Untuk sebagian besar wanita, tidak mau ketinggalan masa ini juga ditandai dengan melakukan pesta mencapai usia 17 tahun sering dilakukan secara besar-besaran ataupun sederhana dengan mengundang anggota keluarga dan terutama teman-teman sebayanya. Pada saat duduk di kelas terakhir, orang tua menganggap hampir dewasa karena akan memasuki dunia kerja orang dewasa, siap menerima pelatihan kerja tertentu, atau  melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Laki-laki mengalami periode awal remaja lebih singkat karena rata-rata laki-laki lebih lambat matang daripada anak perempuan, walaupun di usia 18 tahun ia sudah dianggap dewasa seperti anak perempuan.  Anak laki-laki nampak kurang matang pada usianya dibandingkan anak perempuan.  Status lebih matang di rumah dan di sekolah, maka laki-laki cepat menyesuaikan diri dan menunjukkan perilaku lebih matang.

V.  CIRI-CIRI MASA REMAJA  

        Masa remaja adalah masa sulit, sering dilalui dengan masa guncang dan masih banyak lagi nama yang diberikan oleh para ahli secara berbeda.   Secara umum, remaja mula-mula tidak mau memakai pedoman hidup dan sikap atau pedoman hidup yang baru, hal inilah yang menyebabkan kegoncangan.     Karena  mereka bimbang,  kadang-kadang kemudian yang lama ditingalkan dan sementara yang baru masih sedang dipertimbangkan.  Ada ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan masa-masa lainnya:

1. Masa Remaja sebagai Periode Yang Penting

Bagi sebagian besar anak muda, usia antara 12 – 16 tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan.  Perkembangan fisik yang cepat disertai dengan perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja, menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan pentingnya membentuk sikap, nilai dan minat yang baru.

2. Masa Remaja sebagai Periode Peralihan  

Anak-anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa remaja.  Anak-anak pada masa ini harus meninggalkan  segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus  mempelajari sikap dan pola perilaku yang baru pengganti perilaku dan sikap yang ditinggalkan sesuai dengan masa perkembangannya.  Remaja bukan merupakan seorang anak lagi tetapi juga bukan termasuk orang dewasa.  Statusnya menjadi serba tanggung.      

3.  Masa Remaja sebagai Periode Perubahan

Perubahan yang terjadi sangat pesat baik dalam perubahan fisik maupun perubahan sikap dan perilakunya.  Ada 4 perubahan yang bersifat universal selama masa remaja yaitu:
1.    Emosi tinggi.  Perubahan emosi terjadi lebih cepat pada awal remaja disertai dengan meningginya emosi yang lebih menonjol pada masa awal periode akhir masa remaja.
2.    Terjadi perubahan tubuh, minat, dan peran.   Remaja merasa mengalami banyak persoalan dibandingkan dengan masa sebelumnya sampai kemudian dia sendiri mampu menyelesaikan sesuai dengan kepuasannya.   
3.    Perubahan nilai-nilai yang dianut otomatis terjadi karena minat dan pola perilaku berubah.   Banyaknya teman tidak lagi dianggap sebagai adanya popularitas, kwalitas lebih penting dari kwantitas.    Apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting, pada masa remaja sudah dianggap tidak penting lagi.
4.    Sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap perubahan. Mereka menuntut kebebasan, tetapi pada saat yang sama sering terjadi kontradiksi karena mereka takut menanggung akibat dari perbuatannya dan sering meragukan kemampuannya apakah bisa mengatasi tanggung jawab baru yang diberikan, baik oleh keluarga masupun masyarakat.

4.  Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah

Masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi oleh si remaja, baik dari perbuatan yang disengaja ataupun tidak disengaja dan kadang sulit diatasi.  Sebabnya karena pada masa sebelumnya, masa anak-anak, persoalan yang ada sebagian diselesaikan oleh orang tua, guru, saudara, dan orang lain.   Hal ini menyebabkan kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah yang ada.  Para remaja juga  merasa dirinya mandiri,  mereka ingin mengatasi masalah sendiri karena merasa mampu dan tidak perlu bantuan dari orang lain.  Akibatnya banyak kegagalan yang disertai akibat yang tragis. 

5.   Masa Remaja sebagai Masa  Mencari Identitas

Di masa remaja ini, yang paling didambakan atau paling penting adalah mencari dan menemukan identitas sendiri.  Identitas yang dimaksud menurut Erikson adalah berupa usaha untuk memperoleh kejelasan mengenai siapa dirinya, atau apa peranannya dalam masyarakat.  Karena berlalunya waktu, mereka menginginkan identitas diri dan tidak puas dengan menjadi sama dengan teman-teman lainnya. Banyak yang dilakukan, seperti dengan  menggunakan simbol status seperti: memiliki handphone terbaru, mobil, pakaian bermerek (branded), dan bisa juga lari ke kebut-kebutan sepeda motor yang menunjukkan bahwa dirinya hebat, berani, dan berbeda dengan yang lainnya.   Pada masa ini, remaja ingin menarik perhatian agar bisa dipandang sebagai individu dan mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebaya.

6.   Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan Ketakutan

Pada masa remaja, yang menimbulkan ketakutan adalah adanya anggapan/stereotip budaya atau masyarakat dengan sebutan-sebutan: remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, tidak bertanggung jawab, dan cenderung berperilaku negatif dan merusak.  Sebutan-sebutan ini secara otomatis akan mempengaruhi konsep diri dan sikap remaja terhadap dirinya sendiri.  Yang tidak kalah penting, adanya pandangan dan keyakinan orang dewasa yang buruk tentang remaja, menimbulkana banyak pertentangan dengan orang tua dan antara orang tua dan anak terjadi jarak yang menghalangi anak untuk meminta bantuan orang tua mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.

7.   Masa Remaja sebagai Usia yang Tidak Realistik

Remaja cenderung untuk memandang kehidupan atau melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya.   Cita-cita yang tidak realistik bukan hanya dari dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya.  Hal ini menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri-ciri awal masa remaja.  Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia menjadi marah.   Mereka sering sakit hati dan kecewa kalau keinginan yang ditetapkannya tidak terpenuhi dan kalau orang lain mengecewakannya. Menjelang berakhirnya masa remaja, remaja sering terganggu oleh idealisme  yang berlebihan bahwa mereka segera melepaskan  kehidupan mereka  yang bebas kalau telah mencapai status orang dewasa.    Kenyataannya pada saat dewasa, mereka merasa kebahagiaaan lebih banyak diperoleh di masa remaja dan merasa bahwa mereka telah kehilangan masa bebasnya yang penuh kebahagiaan. 
8.   Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa

Kegelisahan terjadi pada para remaja untuk berubah dari masa sebelumnya dan memberikan kesan bahwa diri mereka sudah hampir dewasa.  Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa.  Menjadi seorang yang dewasa tidak hanya ditentukan oleh cara berpakaian dan bertindak seperti layaknya orang dewasa.   Sebagai akibatnya, mereka meniru perilaku-perilaku yang menunjukkan status sebagai orang dewasa, seperti merokok, minum-minuman keras, mengggunakan obat-obatan, dan yang tidak kalah pentingnya terlibat dalam perbuatan seks yang sebenarnya terlarang untuk umur mereka baik dari aturan masyarakat dan agama.    Dari apa yang dilakukan, mereka mengaharapkan citra diri sebagai ambang masa dewasa terbentuk.

VI.   KONDISI-KONDISI YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI REMAJA

1.   Usia kematangan
Remaja yang matang lebih awal, disini yang diperlukan adalah seperti orang yang hampir dewasa, yaitu mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik.
Remaja yang matang terlambat, yang diperlakukan seperti anak – anak, merasa salah dimengerti dan bernasib kurang baik sehingga cenderung berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri.
2.   Penampilan diri
Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik.  Tiap adanya cacat fisik pada dirinya  merupakan sumber yang memalukan yang mengakibatkan perasaan rendah diri. Sebaliknya, daya tarik fisik menimbulkan penilaian yang menyenangkan tentang ciri kepribadian dan menambah dukungan sosial.
3.   Kepatutan seks
Kepatutan seks dalam penampilan diri, minat, dan perilaku membantu remaja mencapai konsep diri yang baik.  Ketidakpatutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini memberi akibat buruk pada perilakunya.
4.   Nama dan julukan
Remaja peka dan merasa malu bila teman – teman sekelompok menilai namanya buruk atau bila mereka memberi nama julukan yang bernada mencemooh.   Orang tua harus hati-hati memberikan nama pada anaknya.
5.   Hubungan keluarga
Seorang remaja yang memiliki hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang ini dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama.  Bila tokoh ini sesama jenis, remaja akan tertolong untuk mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya.
6.   Teman – teman sebaya
Teman – teman sebaya sangat berpengaruh pada pola kepribadian remaja dalam dua cara.  Pertama, konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman – teman tentang dirinya.  Kedua, ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri – ciri kepribadian yang diakui oleh kelompoknya.
7.  Kreativitas
Remaja yang pada masa kanak – kanak didorong agar kreatif dalam bermain dan dalam tugas – baik itu berupa tugas akademik, mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang memberikan pengaruh yang baik bagi konsep dirinya.  Sedangkan remaja yang sejak awal didorong untuk mengikuti pola yang sudah diakui akan kurang mempunyai perasaan identitas dan individualitas.
8.   Cita – cita
Apabila remaja memiliki cita – cita yang tidak realistis, ia akan mengalami kegagalan.  Akibatnya akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi – reaksi bertahan dimana ia menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Remaja yang realistis akan kemampuannya  lebih banyak mengalami keberhasilan daripada kegagalan. Ini akan menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasan diri yang lebih besar yang memberikan konsep diri yang lebih baik.

VII.  TANDA BAHAYA YANG UMUM DARI KETIDAKMAMPUAN
         PENYESUAIAN DIRI REMAJA

1.    Tidak memiliki tanggungjawab, misalnya tampak dalam perilaku mengabaikan pelajaran untuk bersenang – senang.
2.    Sikap  yang sangat agresif dan sangat yakin pada diri sendiri.
3.    Perasaan tidak aman yang menyebabkan remaja patuh mengikuti standar – standar kelompok.
4.    Merasa ingin pulang bila berada jauh dari lingkungan yang tidak dikenal
5.    Perasaan menyerah.
6.    Terlalu banyak berkhayal untuk mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh dari kehidupan sehari – hari.
7.    Mundur ke tingkat perilaku yang sebelumnya agar supaya disenangi dan diperhatikan.
8.    Menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisme, proyeksi, berkhayal, dll.
 
VIII.    TUGAS PERKEMBANGAN PADA MASA REMAJA

         Perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak ke masa persiapan menghadapi masa dewasa.

Menurut Robert Y. Havighurst tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase – fase atau periode kehidupan tertentu, dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela oleh orang tua atau masyarakatnya dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan.

Adapun yang menjadi sumber dari tugas – tugas pekembangan tersebut menurut Havighurst adalah : kematangan fisik, tuntutan masyarakat / budaya dan nilai – nilai serta aspirasi individu.

Tugas perkembangan masa remaja :
1.    Menerima keadaan fisik atau realitas jasmaniah dan menggunakannya secara efektif.  Remaja merasa bangga atau memiliki sikap toleran terhadap fisiknya.  Menggunakan dan memelihara fisiknya secara efektif dan merasa puas dengan keadaan fisiknya.
2.    Menerima peran sosial sebagai pria atau wanita.  Mempelajari dan menerima peranan masing-masing sesuai dengan ketentuan-ketentuan norma-norma masyarakat.
3.    Memperlihatkan perilaku sosial yang dapat dipertanggungjawabkan.  Ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab di masyarakat.  Menghormati dan mentaati nilai-nilai sosial dalam tingkah laku dirinya.
4.    Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.  Tidak kekanak-kanakan lagi  yang selalu terikat pada orang tua.  Membebaskan diri dari ketergantungan terhadap orang tua dan orang lain.
5.    Mencapai hubungan sosial yang matang/bergaul dengan teman-teman sebayanya baik  dengan kelompok remaja wanita dan kelompok remaja pria.   Belajar memandang gadis-gadis sebagai wanita dan laki-laki sebagai pria dan menjadi manusia dewasa diantara orang-orang dewasa.  Dapat menahan dan mengendalikan perasaan-perasaan pribadi dan belajar memimpin orang lain tanpa mendominasi.
6.    Mengembangkan ketrampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan untuk hidup bermasyarakat.   Menjadi warga negara yang baik, perlu memiliki pengetahuan tentang hukum, pemerintah, ekonomi, politik, dll dan tentang hakikat manusia dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.
7.    Memperoleh sejumlah norma-norma dan sistim etika sebagai pedoman dalam tindakan-tindakannya dan sebagai pandangan hidup. Membentuk suatu gambaran dunia dan nilai-nilai yang dimiliki sehingga bisa hidup selaras (harmoni) dengan orang lain.
8.    Persiapan mandiri secara ekonomi.  Merasa sanggup untuk hidup berdasarkan usaha sendiri.  Ini sangat penting terutama bagi laki-laki sekaligus tidak menutup mata akan adanya kenyataan dewasa ini kaum wanita juga mulai pelan-pelan memikul tugas ini.
9.    Pemilihan dan persiapan diri untuk pekerjaan dan jabatan (karir).  Belajar memilih satu jenis pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan tersebut.
10.    Mempersiapkan perkawinan dan hidup berkeluarga.  Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak.  Memperoleh pengetahuan yang tepat tentang pengelolaan keluarga dan pemeliharaan anak.

 Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan:
 1. Faktor yang menghalangi
•    Tingkat perkembangan yang mundur
•    Tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari tugas – tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya.
•    Tidak ada motivasi
•    Kesehatan yang buruk
•    Cacat tubuh
•    Tingkat kecerdasan yang rendah

2. Faktor yang membantu
•    Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan
•    Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya
•    Motivasi
•    Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh
•    Tingkat kecerdasan yang tinggi
•    Kreativitas

Tujuan perkembangan pada masa remaja dalam berbagai hal bisa dilihat dari tabel berikut ini :

DARI ARAH    KE ARAH
KEMATANGAN EMOSIONAL DAN SOSIAL   
1. Tidak toleran dan bersikap superior    1. Bersikap toleran dan merasa nyaman.
2. Kaku dalam bergaul.    2. Luwes dalam bergaul
3. Peniruan buta terhadap teman sebaya.    3. Interdependensi dan mempunyai self-
    esteem..
4. Kontrol orang tua.    4. Kontrol diri sendiri.
5. Perasaan yang tidak jelas tentang
    dirinya/orang lain.    5. Perasaan mau menerima dirinya dan
    orang lain.
6. Kurang dapat mengendalikan diri dari
     rasa marah dan sikap permusuhannya.    6. Mampu menyatakan emosinya secara
     konstruktif dan kreatif.
   
PERKEMBANGAN  HETEROSEKSUALITAS   
1. Belum memiliki kesadaran tentang
    perubahan seksualnya.    1. Menerima identitas seksualnya sebagai
    pria dan wanita.
2. Mengidentifikasi orang lain yang sama
    jenis kelaminnya.    2. Mempunyai perhatian terhadap jenis
kelamin yang berbeda dan bergaul
dengannya.
3. Bergaul dengan banyak teman.    3. Memilih teman-teman tertentu.
   
KEMATANGAN KOGNITIF   
1. Menyenangi prinsip-prinsip umum dan
    jawaban yang final.    1. Membutuhkan penjelasan tentang fakta
    dan teori.
2.Menerima kebenaran dari sumber      otoritas.    2. Memerlukan bukti sebelum menerima.
3. Memiliki banyak minat atau perhatian.    3. Memiliki sedikit minat/perhatian
terhadap jenis kelamin yang berbeda dan
bergaul dengannya.
4.    Bersikap subyektif dalam menafsirkan
Sesuatu.    4. Bersikap obyektif dalam menafsirkan
    sesuatu.
   
FILSAFAT HIDUP   
1. Tingkah laku dimotivasi kesenangan.         1. Tingkah laku dimotivasi oleh aspirasi.
2. Acuh tak acuh terhadap  ideologi dan
    etika.    2. Melibatkan diri atau mempunyai
    perhatian terhadap ideologi dan etika.
3. Tingkah lakunya tergantung pada
     reinforcement (dorongan dari luar).    3. Tingkah lakunya dibimbing oleh
     tanggung jawab moral.
4. Bersikap subyektif dalam menafsirkan sesuatu.    4. Bersikap obyektif dalam menafsirkan
     sesuatu.

IX.   PERUBAHAN FISIK SELAMA MASA REMAJA

Perubahan fisik masih belum sempurna pada saat masa puber berakhir dan pada masa awal remaja.  Terdapat penurunan dalam laju pertumbuhan, perkembangan internal lebih menonjol daripada perkembangan eksternal.  Meskipun anak laki-laki perkembangan fisiknya lebih lambat daripada perempuan, karena petumbuhan laki-laki berlangsung lebih lama, pada saat matang biasanya laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.   Karena otot anak laki-laki tumbuh lebih daripada anak perempuan, setelah masa puber, kekuatan anak laki-laki melebihi anak perempuan.   Karena kekuatan mengikuti pertumbuhan bentuk otot, anak laki-laki umumnya menunjukkan peningkatan kekuatan  yang terbesar setelah berumur 14 tahun.   Anak perempuan pada umumnya mencapai kekuatan maksimum pada usia 17 tahun, pada anak laki-laki, mereka belum mencapai kekuatan maksimum sebelum berusia 21 tahun/22 tahun.

Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan keadaan tubuhnya, lebih banyak dialami di beberapa bagian tubuh tertentu.  Ketidak puasan ini menjadi salah satu penyebab timbulnya konsep diri yang kurang baik dan kurangnya harga diri selama masa remaja.  Walaupun pakaian dan alat-alat kecantikan bisa menutupi bentuk-bentuk fisik yang kurang menarik/disukai remaja dan menonjolkan bentuk fisik yang menarik, hal ini belum cukup bisa menjamin adanya keteksis-tubuh pada remaja.  Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap bentuk tubuh mengkibatkan remaja merasa prihatin akan pertumbuhan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku.

   Bagi anak perempuan, haid merupakan masalah yang serius, seperti bertambah gemuk, sakit kepala, sakit punggung, pembengkakan lutut, dan mengalami perubahan emosi seperti suasanan hati, sedih, gelisah, dll.  Karena anak laki-laki tidak mengalami gangguan-gangguan fisik seperti anak perempuan, hal ini membawa akibat kurang baik pada sikap anak perempuan dan memperkuat angapan bahwa wanita umumnya bernasib buruk.       
Perubahan Tubuh Selama Masa Remaja

Perubahan Eksternal    Perubahan Internal
1. Tinggi Badan
Rata – rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia 17 dan 18 tahun.  Rata – rata anak laki – laki kira – kira setahun sesudahnya.    1. Sistem Pencernaan
Selama masa remaja, perubahan terjadi pada:
a.    Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa.
b.    Usus bertambah panjang dan bertambah besar.
c.    Otot-otot di perut dan dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat.
d.    Hati bertambah berat.
e.    Kerongkongan bertambah panjang.
2.    Berat Badan
Berat badan bertambah.  Perubahan berat badan sesuai dengan  jadwal yag sama dengan perubahan tinggi. Berat badan sekarang tersebar ke bagian – bagian tubuh yang tadinya hanya mengandung sedikit lemak atau tidak mengandung lemak sama sekali.    2. Sistem Peredaran Darah
a. Jantung tumbuh pesat; pada usia 17 atau 18 tahun beratnya 12 x berat pada waktu lahir.
b. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan pada saat jantung sudah matang.
3. Proporsi Tubuh
Bentuk tubuh menjadi lebih proporsional.  Anggota tubuh semakin mencapai perbandingan tubuh yang baik dan seimbang. Badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak kelihatan terlalu panjang.     3. Sistem pernapasan
Kapasitas paru – paru anak perempuan hampir matang pada usia 17 tahun.  Pada anak laki-laki mencapai tingkat kematangan beberapa tahun kemudian.
4. Organ Seks
Perubahan lain yang penting adalah organ seks pria dan wanita mencapai ukuran yang matang pada akhir masa remaja,  fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.    4. Sistem Endokrin
a. Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan ketidakseimbangan sementara dari seluruh sistem endokrin pada awal masa puber.
b. Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi tetapi belum mencapai ukuran matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa.
5. Ciri – ciri Seks Sekunder
Ciri – ciri seks sekunder yang utama berada pada tingkat perkembangan yang matang pada saat akhir masa remaja.    5. Jaringan Tubuh
Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun. Jaringan, selain tulang, terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran matang khususnya bagi perkembangan jaringan otot.
X.   KEADAAN EMOSI SELAMA MASA REMAJA

Secara umum masa remaja dianggap sebagai “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.   Meningginya emosi disebabkan terutama karena anak laki-laki dan wanita berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.

Tentu saja tidak semua remaja mengalami hal ini , tetapi sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan sebagai akibat dari usaha penyesuaian diri  pada pola perilaku baru.    Misalnya: yang berhubungan dengan masa percintaan dimana mereka tidak mengalaminya pada saat sebelumnya.  Terutama kalau hubungan percintaan mereka memburuk dan putus di tengah jalan.   Menjelang berakhirnya masa sekolah juga merupakan periode kritis karena mereka menghawatirkan masa depan mereka.

Anak laki-laki dan wanita sudah mencapai kematangan emosinya  bila pada akhir masa remaja mereka tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, tetapi menunggu melupakan emosinya dengan cara-cara yang lebih wajar.   Kematangan emosi bisa juga dilihat dengan menilai situasi terlebih dahulu dengan cermat sebelum bertindak secara emosional dan bisa melihat dengan jernih apa akibat dari sesuatu perbuatan   Remaja yang emosinya matang memberikan reaksi emosional terhap peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan stabil.       

Emosi Yang Umum Pada Masa Remaja

Amarah
Penyebab amarah adalah tidak tercapainya keinginan atau serangan yang hebat dari remaja lain. Remaja biasanya mengungkapkan rasa marah dengan menggerutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang – orang yang menyebabkan amarah.
Takut
Pembiasan, peniruan dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berpengaruh penting dalam menimbulkan rasa takut.
Cemburu
Remaja menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian lawan jenis yang disukainya beralih kepada orang lain.
Ingin Tahu
Remaja mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal – hal yang baru dilihatnya. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik; kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, ia bereaksi dengan bertanya.
Iri Hati
Remaja seringkali iri hati terhadap orang yang memiliki benda lebih banyak atau lebih bagus. Tetapi ia tidak mengeluh dan menyesali diri sendiri seperti yang dilakukan oleh anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar memperoleh uang untuk membeli barang yang diinginkan atau bila perlu berhenti sekolah untuk mendapatkannya.
Gembira
Remaja bisanya merasa gembira karena mampu mendapatkan apa yang diinginkannya atau mampu melaksanakan tugas yang dianggap sulit. Remaja mengungkapkan kegembiraanya dengan tersenyum dan tertawa, melompat atau memeluk orang yang membuatnya bahagia.
Sedih
Remaja merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintainya atau yang dianggap penting bagi dirinya. Secara khas remaja mengungkapkan kesedihannya dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya seperti makan, atau dengan cara lain yang dapat membuatnya melupakan kesedihannya seperti menonton film, jalan-jalan atau berolah raga.
Kasih Sayang
Remaja mencintai lawan jenisnya, binatang, orang lain atau benda yang menyenangkannya. Ia mengungkapkan kasih sayangnya secara lisan atau secara fisik dengan memeluk atau mencium objek kasih sayangnya.   



XI.   PERUBAHAN SOSIAL

Perkembangan masa remaja paling sulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial.   Penyesuaian yang tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, dsb. 

Kalau tidak hati-hati, sebagai orang tua kita kadang-kadang merasa “kurang dibutuhkan”  karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman –teman sebaya mereka.    Mereka tidak mau pergi bersama-sama dengan orang tua di suatu tempat  dimana remaja yang lain berada.    Cara/model  pakaian dan gaya hidup yang sama lebih memungkinkan remaja diterima oleh kelompoknya.    Demikian juga kalau anggota kelompok mulai merokok atau minum alkohol, remaja cenderung  mengikutinya tanpa melihat akibatnya yang lebih jauh.    Karena semakin bertambahnya umur maka pengaruh kelompok sebaya lambat laun berkurang karena mereka ingin dilihat sebagai individu yang mandiri dan mempunyai identitas sendiri.    Remaja tidak lagi tertarik pada kegiatan besar seperti waktu masa kanak-kanak.  Pada masa remaja, ada kecenderungan mereka ingin mengurangi jumlah teman dan memilih menjalin hubungan persahabatan pribadi yang lebih erat.

Pengelompokan Sosial Remaja

Berikut ini adalah pengelompokan sosial remaja yang perlu diketahui:
Teman Dekat
Remaja pada umumnya memiliki 2 atau 3 orang teman dekat atau sahabat karib. Mereka adalah sesama jenis yang mempunyai minat dan kemampuan yang sama. Teman dekat saling mempengaruhi satu sama lain meskipun kadang-kadang juga bertengkar.

Kelompok Kecil
Kelompok ini biasanya terdiri dari kelompok teman-teman dekat. Awalnya hanya terdiri dari jenis kelamin yang sama, tetapi kemudian meliputi laki-laki dan perempuan.
Kelompok Besar
Kelompok besar terdiri dari beberapa kelompok kecil dan kelompok teman dekat. Kelompok ini berkembang seiring dengan meningkatnya minat akan pesta dan berkencan. Karena kelompok ini besar, maka penyesuaian minat menjadi sulit dan berkurang di antara anggota-anggotanya sehingga terjadi jarak sosial yang lebih besar di antara mereka.

Kelompok Yang Terorganisasi
Kelompok pemuda yang dibina oleh orang dewasa dan dibentuk oleh sekolah dan organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja yang tidak mempunyai klik atau kelompok besar. Banyak remaja yang mengikuti kelompok seperti itu merasa diatur dan minatnya menjadi berkurang ketika berusia 16 atau 17 tahun.

Kelompok Geng
Geng dikonotasikan sebagai hal yang negatif.  Remaja yang tidak termasuk klik atau kelompok besar tersebut dan merasa tidak puas dengan kelompok yang terorganisasi kemudian mungkin akan mengikuti kelompok geng.  Anggota geng yang biasanya terdiri dari anak-anak sejenis dan memiliki minat utama yang sama untuk menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku antisosial. 


Berikut ini adalah kondisi – kondisi yang menyebabkan remaja diterima atau ditolak dalam penyesuaian sosialnya :

1.    Sindroma Penerimaan
•    Adanya kesan pertama yang menyenangkan sebagai akibat dari penampilan yang menarik perhatian, sikap yang tenang, dan gembira.
•    Reputasi sebagai seorang yang sportif dan menyenangkan.
•    Penampilan diri yang sesuai dengan penampilan teman – teman sebayanya.
•    Perilaku sosial yang ditandai dengan kerjasama, tanggung jawab, panjang akal, kesenangan bersama dengan orang – orang lain, bijaksana dan sopan.
•    Memiliki kematangan.  Hal ini terutama dalam masalah pengendalian emosi serta kemauan untuk mengikuti peraturan-peraturan.
•    Sifat kepribadian yang menimbulkan penyesuaian sosial yang baik seperti jujur, setia, tidak mementingkan diri sendiri (tidak egois).
•    Keadaan status sosial ekonomi penting sekali.  Memiliki keadaan sosial ekonomi yang sama atau sedikit di atas anggota-anggota yang lain dalam kelompok dan hubungan yang baik dengan anggota-anggota keluarga.
•    Tempat tinggal yang dekat dengan kelompok sehingga mempermudah hubungan dan partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok yang sudah disepakati. 
  
2.    Sistem Alienasi
•    Sebaliknya, adanya kesan pertama yang kurang baik karena penampilan diri yang kurang menarik atau sikap menjauhkan diri dari teman dan sikap yang mementingkan diri sendiri (egois).
•    Terkenal sebagai orang yang tidak sportif dan tidak menyenangkan.
•    Penampilan yang tidak sesuai dengan standar kelompok dan teman-teman sebaya dalam hal daya tarik fisik atau tentang kerapihan.
•    Perilaku sosial yang ditandai dengan perilaku yang menonjolkan diri, mengganggu dan menggertak orang lain, senang memerintah, tidak dapat bekerja sama dan kurang bijaksana tidak bisa diterima.
•    Kurangnya kematangan diri terutama dalam hal pengendalian emosi, ketenangan, kepercayaan diri dan kebijaksanaan.
•    Sifat – sifat kepribadian yang mengganggu orang lain seperti mementingkan diri sendiri, keras kepala, gelisah dan mudah marah.
•    Keadaan status sosial ekonomi berada di bawah status sosial ekonomi kelompok dan hubungan yang buruk dengan anggota keluarga.
•    Tempat tinggal yang terpencil atau jauh dari kelompok atau ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok yang sudah disepakati bersama karena tanggung jawab keluarga atau karena bekerja sambilan.   
XII.    MINAT SEKS DAN PERILAKU SEKS

Kasus:
Hasil penelitian 10 mahasiswa UGM (Kelompok Diskusi Dasagung), tanggal 24 Maret – 21 Juni 1984 di Yogyakarta yang menghebohkan secara nasional mengungkapkan bahwa sebagian mahasiswa dan pelajar hidup bersama.  Mereka menemukan 29 pasangan yang hidup bersama di rumah-rumah pondokan.  Mereka tidur bersama 2 -6 hari per minggu (Kompas, 9 Juni 1984)


Mitos tentang Seks di Kalangan Remaja SMP-SLTA (12-15 th.)
Hasil Penelitian Fakultas Psikologi UI

Yang mendorong perilaku seks:
        %
 1.    Baru bisa dikatakan pacaran kalau sudah ciuman     50
2.    Ganti-ganti pasangan seks tidak menambah resiko PMS (Penyakit Menular Seksual)    44
3.    Cowok bisa gila kalau bolak-balik ditolak untuk berhubungan seks    40
4.    Pacaran perlu bervariasi, antara lain bercumbu    38
5.    Mau berhubungan seks berarti serius dengan pacar    36
6.    Sekali hubungan seks tidak akan tertular PMS    33
7.    Hubungan seks pranikah sah-sah saja asal sama-sama cinta    31
Yang mencegah perilaku seks:
        %
 1.    Kesucian cewek harus dijaga     73
2.    Hubungan seks hanya dibenarkan jika sudah menikah    69
3.    Ciuman dibibir bisa hamil    68
4.    AIDS bisa menular melalui ciuman    68
5.    Khayalan seks mengurangi konsentrasi belajar    62
6.    Hamil pranikah menghambat pendidikan dan pekerjaan    56
7.    Cewek akan hamil jika berhubungan seks di masa subur    55
Sumber: Etiekarina,1998

Karena meningkatnya minat pada seks, remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks, baik dari teman remajanya maupun dari internet yang mudah sekali diakses.   Sedikit sekali yang berharap bahwa seks akan diajarkan oleh orang tuanya, apalagi ini ditunjang dengan budaya kita yang masih tabu menjelaskan masalah seks secara terang-terangan kepada anak.   Pada akhir masa remaja, mereka sudah cukup memiliki informasi mengenai seks untuk memuaskan keingintahuan mereka.

Terjadi perbedaan antara laki-laki dan wanita.  Wanita lebih tertarik dan ingin tahu mengenai masalah KB, pil anti hamil, pengguguran, dan kehamilan.   Sebaliknya remaja laki-laki ingin mengetahui tentang masalah yang berhubungan dengan penyakit kelamin akibat hubungan seks dan bagaimana cara pencegahannya, hubungan seks itu sendiri dan akibatnya, dan keluarga berencana. .  

    Sekarang, ketika remaja sudah matang secara seksual, laki – laki maupun perempuan mulai mengembangkan sikap yang baru pada lawan jenisnya, dan selain mengembangkan minat terhadap lawan jenis juga mengembangkan minat pada pelbagai kegiatan yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Minat yang baru ini bersifat romantis dan disertai dengan keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dari lawan jenis.
   
    Perubahan perilaku seksual tampak menonjol, namun perubahan sikap seksual lebih menonjol lagi. Perilaku yang pada generasi yang lalu akan mengejutkan para remaja bila terjadi di antara teman-teman sebayanya dan akan menimbulkan rasa bersalah serta malu bila terjadi dalam kehidupan mereka sendiri, sekarang dianggap benar dan normal, atau paling sedikit diperbolehkan. Bahkan hubungan seks sebelum menikah dianggap “benar” apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai dan saling terikat. Senggama yang disertai kasih saying lebih diterima daripada bercumbu sekedar melepas nafsu.


Berikut di bawah ini merupakan alasan – alasan yang umum untuk berkencan selama masa remaja :
1.    Hiburan
Apabila berkencan dimaksudkan untuk hiburan, remaja menginginkan agar pasangannya mempunyai berbagai macam ketrampilan sosial yang dianggap penting oleh kelompok sebaya, yaitu berupa sikap baik hati dan menyenangkan. Yang menarik, remaja laki-laki diharapkan memiliki mobil atau dapat mengemudikan mobil dan memiliki uang.
2. Sosialisasi  
Apabila anggota kelompok sebaya membagi diri dalam pasangan-pasangan kencan,  laki-laki dan perempuan harus berkencan apabila masih ingin menjadi anggota kelompok dan mengikuti berbagai kegiatan sosial kelompok. Pasangan kencan harus mau mengikuti kegiatan – kegiatan sosial dan mempunyai ketrampilan-ketrampilan sosial, waktu, uang serta kemandirian yang diperlukan untuk dapat berpartisipasi dengan baik
3. Status 
Berkencan bagi laki – laki dan perempuan terutama dalam bentuk berpasangan tetap, memberikan status dalam kelompok sebaya. Semakin popular pasangan kencan di dalam kelompok dan semakin tinggi status sosial ekonomi keluarga pasangan kencan di dalam masyarakat, maka hal ini akan semakin menguntungkan bagi remaja. Berkencan dalam kondisi demikian merupakan batu loncatan ke status yang lebih tinggi dalam kelompok sebaya.
4. Masa Pacaran
Waktu pacaran, berkencan berperan penting.  Hal ini disebabkan remaja jatuh cinta dan tujuannya tentunya berharap merencanakan perkawinan.  Remaja memikirkan dengan  sungguh-sungguh keserasian dengan pasangan kencannya sebagai teman hidup.
5. Pemilihan Teman Hidup
Sampailah kemudian pada masa yang sangat penting yaitu ketika remaja yang ingin menikah setelah tamat sekolah menengah atas dan tidak mempunyai rencana untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi, menganggap bahwa berkencan sebagai kesempatan untuk menjajagi beberapa pasangan kencan apakah ada di antara mereka yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan sebagai teman hidup di masa depan.  Banyak hal yang dipilih, yaitu terutama dalam penyesuaian minat, temperamen, dan cara-cara mengungkapkan kasih saying. Banyak remaja yang bermaksud cepat menikah memandang kencan sebagai cara percobaan atau usaha untuk mendapatkan teman hidup.   Semakin jauh kesamaan minat, temperamen, dll. diantara mereka, semakin banyak masalah yang timbul apabila mereka memutuskan pernikahan sebagai pasangan suami istri.

XIII.   REMAJA DAN KETERASINGAN

Perkelahian yang sering terjadi antara murid SMU dan STM (sekarang SMK) di berbagai tempat di Indonesia termasuk Jakarta yang memakan cukup banyak korban menunjukkan kepada kita bahwa pembinaan terhadap para remaja belum dilakukan dengan baik terutama oleh pemerintah dan menimbulkan keprihatinan kita semua.

Banyak pakar yang bependapat bahwa perilaku remaja yang bersifat patologis akibat dari proses keterasingan dari kehidupan yang wajar.   Pembangunan yang terjadi selama orde baru di negara kita lebih dari 25 tahun dan bertumpu pada pertumbuhan ekonomi telah membuat kehidupan kita menjadi timpang karena materi menjadi tolok ukur apakah seseorang itu dianggap sukses di masyarakat atau tidak dan sering kurang mengindahkan akibat sosial yang terjadi.   Untuk mengejar materi, budaya KKN merebak dimana-mana.   Perilaku sosial menjadi berkurang dan orang cenderung hidup secara individualistis.  Hal ini sangat terasa sekali terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dll.

Akibat lebih lanjut sekarang muncul kecenderungan bahwa tidak hanya suami yang berkerja tetapi juga istri untuk bekerja meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan memenuhi kebutuhan materi.   Kadang malahan bisa terjadi masing-masing bekerja keras dan istri dengan pangkat dan penghasilan melebihi suami.   Tanpa terasa bahwa kepuasan manusia tidak ada habis-habisnya, berpacu dengan waktu demi materi.      Akibat  lebih jauh terjadi stress fisik dan kejiwaan suami dan istri yang terus menerus yang menyebabkan hubungan suami, istri dan anak menjadi tidak/kurang harmonis.   Hal ini bisa menyebabkan adanya keterasingan kasih sayang dan perhatian orang tua dan dalam jangka panjang menimbulkan rasa benci yang dipendam dalam hati.

Globalisasi dan modernisasi telah membuat perubahan pola hidup remaja yang dulu senang mengikuti kegiatan-kegiatan positif seperti diskusi, pramuka, seni, dan budaya, sekarang sudah lebih memilih pergi ke kafe dan mal untuk menghabiskan waktu luangnya.    Ibarat minum secangkir kopipun mereka tidak lagi di warung bubur kacang hijau, tetapi di kedai kopi seperti Exelso yang harga minumannya saja bisa puluhan kali lipat dari warung kaki lima.   Untuk bertemu temanpun barangkali mereka lebih suka memilih bertemu di mal daripada  di perpustakaan atau gelanggang remaja seperti orang tua mereka.

Banyak orang tua yang tanpa sadar terlalu khawatir dengan masa depan anaknya sehingga selalu memberikan pengarahan dalam banyak hal, termasuk jurusan apa yang dipilih di SMU maupun perguruan tinggi padahal tidak sesuai dengan keinginan dan minat si anak itu sendiri.    Tentu saja hal ini tidak dilarang sepanjang orang tua mengerti minat dan potensi anaknya.  Konflik sering terjadi karena orang tua takut dan sering memberikan petunjuk, pengarahan tanpa memberikan kesempatan kepada anak berkembang secara wajar dan menjadi dirinya sendiri.   Ini berakibat anak akan terasing dari hak untuk menyatakan pendapat dan keinginannya.   Anak merasa dirinya tidak dimengerti  oleh orang tuanya sendiri.

Situasi lain yang membuat frustasi sekarang ini adalah susahnya mencari sekolah, biaya sekolah mahal, setelah lulus kerja juga sulit, dan dari kacamata remaja terjadi kejengkelan karena ketidaksesuaian antara kata dengan perbuatan generasi yang lebih tua.   Dengan mata telanjang remaja melihat mereka tidak bisa dipakai sebagai role model karena tidak satu kata dengan perbuatan.   Krismon dan suasana politik yang carut marut tidak jelas mana lawan dan mana kawan menambah kejengkelan mereka sehingga mereka kehilangan tokoh dan panutan yang bisa diteladani.  Hal ini mempengaruhi proses pematangan jiwanya.              



XIV.    REMAJA DI PEDESAAAN, KOTA KECIL DAN KOTA BESAR

Pengaruh kebudayaan asing, terutama hal-hal yang negatif berbeda-beda  terhadap remaja sesuai dengan lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal.  Remaja bisa dibagi menjadi 3 kelompok:

1)    Remaja yang hidup di daerah pedesaan.  Remaja yang hidup di daerah pedesaan biasanya hidupnya sangat sederhana, seperti bertani dan beternak.  Mereka tidak banyak mengalami persoalan dibandingkan dengan yang tinggal di kota besar dan berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan adat.   Pengaruh kebudayaan asing relatif tidak banyak, mereka hidup akrab dan saling tolong menolong, bahkan dalam hidupnya saling mengingatkan dan menjaga satu sama lainnya.   Masa remaja pada masyarakat desa relatif pendek.  Dari kecil membantu orang tua ke sawah, ke ladang atau melaut.  Mereka segera ikut dalam aktifitas sosial keagamaan.   Untuk wanita, biasanya mereka sudah kawin dalam umur yang cukup belia.

2)    Remaja yang hidup di kota kecil.  Walaupun hubungan antara kota kecil dan kota besar semakin erat, tetapi pengaruh kebudayaan yang negatif belum terlalu banyak mengimbas  pada remaja di kota kecil.  Kemajuan teknologi komunikasi seperti handphone, telpon flexi, radio, televisi, koran dan majalah menambah dekatnya hubungan kota kecil dan besar.   Sebagi remaja  yang masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan, ada kecenderungan mereka meniru dan meneladani mereka yang ada di kota besar agar tidak ketinggalan zaman.  Yang terdidik, agamanya kuat dan memegang adat-istiadat, biasanya bisa menguasai diri dari pengaruh negatif.    Yang keadaannya sebaliknya, mereka terpengaruh oleh hal-hal yang negatif sehingga di kota kecil mulai muncul kenakalan remaja dan penyalahgunaan obat-obat terlarang.   Pengaruh negatif kebudayaan asing terhadap remaja di kota kecil walaupun ada tetapi relatif kurang berkat kuatnya keyakinan agama dan ketergantungan pada adat yang masih subur di masyarakat. Hubungan antara kota kecil dan kota besar terutama yang diakibatkan oleh teknologi komunikasi di atas, maka mau tak mau pengaruh negatif terjadi juga pada remaja di kota kecil.

3)    Remaja yang hidup di kota besar lebih banyak dipengaruhi kebudayaan asing atau hal-hal negatif lainnya.  Internet, film dan bacaan porno sangat marak di kota besar.   Tempat-tempat remaja yang memungkinkan mereka menikmati dunia remaja yang kadang tidak sesuai dengan norma masyarakat tersedia dengan lengkap, seperti hotel, night club, dll.  Mereka sering menemukan keadaan yang kontradiktif di sekolah dan di rumah dengan kenyataan yang ada  di masyarakat kota besar.  Terjadi kegoncangan remaja tertutama mereka yang berasal dari keluarga yang agamanya lemah.  Gejolak jiwa dan kecemasan dan ketidak pastian mereka wujudkan dengan berbagai macam kelakuan kenakalan remaja seperti kebut-kebutan, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dll,.  Banyak diantara amereka yang perlu mendapatkan perawatan jiwa dan psikologis.
       
XV.    KESIMPULAN & SARAN

1.    Para pakar memiliki perbedaan dalam menentukan umur masa remaja. Namun demikian, usia  remaja adalah masa dimana perkembangan psikologi manusia sedang pada tahap pancaroba.   Masa remaja biasanya didefinisikan sebagai masa antara masa anak-anak dengan masa dewasa.  Posisi antara inilah yang kemudian mengakibatkan perkembangan psikologinya tidak menetap. Usia remaja tidak bisa dikategorikan dewasa yang kecenderungan psikologisnya sudah sampai tingkat maturasi, pada saat yanag sama ia tidak bisa dikategorikan sebagai anak-anak.

2.    Dari tugas perkembangan remaja, ada hubungan yang cukup erat antara lingkungan kehidupan sosial dan tugas-tugas yang harus diselesaikan remaja dalam hidupnya.  Hal ini penting agar mereka bisa hidup dengan baik dan diterima masyarakat seperti yang diharapkan oleh orang tuanya.  Wajar sekali melakukan pendekatan sosial ke dalam lingkungan kehidupan remaja.  Agar remaja bisa melalui tugas perkembangannya dengan normal, orang tua harus benar-benar mengawasi dan mendidik mereka agar berhasil mencapainya dengan baik dan bahagia dan tidak menyalahkan orang lain apabila ada masalah yang terjadi pada fase ini.

3.    Sehubungan dengan kenakalan remaja dan agar remaja berkembang menjadi seorang pribadi yang beriman dan bertakwa dan mengembangkan budaya “rahmatan lil alamin”, perlu ada intervensi orang tua dan pendidik yaitu pendididkan agama.  Orang tua harus sedini mungkin membekali anak-anaknya dengan pengetahuan agama karena pendidikan agama dalam keluarga merupakan  dasar dari segala tingkah laku dalam kehidupan selanjutnya dan sangat penting artinya. Kesalahan memahami dan menangani gejolak psikologi remaja bisa berakibat fatal berupa disorientasi pada diri anak remaja.    


Daftar Pustaka


Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan.  Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.  Jakarta: Erlangga

Sudarsono (1991). Kenakalan Remaja.  Jakarta: PT Rineka Cipta

Sujanto, A.(1996). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.

Panuju, P. & Umami, I. (1999). Psikologi Remaja. Yogyakarta : PT Tiara Wacana.

Sabri &  Alisuf, M.  (2001). Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan.
Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.

L, Zulkifli (2003). Psikologi Perkembangan.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sarwono, S.W. (2003).  Psikologi Remaja.  Jakarta: PR RajaGrafindo Persada.

Monks, F.J. & Knoers, A.M.P. (2004). Psikologi Perkembangan.  Pengantar Berbagai Bagiannya.  Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudarsono (2004). Kenakalan Remaja.  Jakarta: PT Rineka Cipta

Ancok, D. (2004). Psikologi Terapan. Mengupas Dinamika Kehidupan Umat Manusia.  Yogyakarta: Darussalam.

Yusuf, S. (2004). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja.   Bandung: PT Remaja Rosdakarya.