Senin, 21 Mei 2012

Seni Menepis Kesedihan

created by. Iredho Fani Reza, Palembang, Senin 21 Mei 2012, 23:10 Wib

Seni menepis kesedihan merupakan buah karya dari filosof muslim pertama al-kindi yang ada kaitanya dengan etika. Di dalam karya nya ini al-kindi mengkaitkan suatu penyakit jiwa yang biasa di sebut ”kesedihan”, di mulai dari sebab, sifat dasar dan mengatasinya. Al-kindi berkiblat pada buku ethical theories in islam karangan oleh majid fakhry, dan juga yang berkenaan dengan seni menepis kesedihan.

Menurut al-kindi dalam buku nya mengungkapkan kesedihan merupakan ”suatu penyakit jiwa yang terjadi karena hilangnya yang dicinta dan luputnya yang di damba”. Menurut al-kindi juga tidak ada seorang manusia pun yang dapat melepaskan dirinya dari kesedihan dan kesengsaraan di dunia yang fana, dimana tidak ada seorang pun yang abadi.

Dalam kehidupan duniawi ini tak lepas oleh materi baik harta maupun jabatan. Semua itu hanyalah benda-benda fana yang abadi atau permanen dalam waktu, tidak akan kekal untuk selamanya. Oleh karena itu kita harus berjuang untuk menghindarkan kesedihan yang tak perlu dengan cara mengembangkan sikap merasa puas dan mengakui, melaui observasi yang jelas, yang mana bahwasanya ”keinginan terhadap objek-objek duniawi bukanlah sesuatu yang niscaya melainkan kebiasaan atau karena penggunaanya yang keseringan”.

Oleh karena itu obat dari ”penyakit sedih” ini bukanlah obat-obatan terlarang, racun dan sebagainya. Melainkan dalam ketabahan moral serta tawakal, yang pengaplikasianya harus berjalan secara bertahap dan metodis, sampai kebiasaan tersebut sepenuhnya tertanam di dalam jiwa kita. Salah satu ”obat” sederhana nya adalah mengamati sifat dasar dari kesedihan itu, sebab dari muncul nya ; apakah tibul dari diri kita sendiri atau dari orang lain.

Apabila sebab dari ”penyakit sedih” itu timbul dari diri kita sendiri, maka kewajiban kita adalah mencoba menahan diri dari melakukan apa yang telah menimbulkan kesedihan tersebut. Dan apabila timbul dari orang lain ; kewajiban kita adalah memperkirakan apakah orang lain tersebut dapat kita hindarkan atau tidak. Jika bisa maka kewajiban kita melakukannya akan tetapi bila tidak bisa dan masih mendekati diri kita, maka sebaiknya kita jang terus menerus jatuh dalam jurang kesedihan, dan sebaiknya kita harus tetap sabar dan tabah dalam menghadapinya dan berusaha bangkit perlahan dari jurang kesedihan tersebut.

Cara yang lain dari hal yang diatas adalah mengingat bahwa kehilangan apapun yang menimpa kita, kita harus lihat bahwa mungkin hal tersebut dapat di derita juga oleh orang banyak di sekitar kita. Dan pada akhirnya mereka semua mau menerima kehilangan tersebut.
Ada juga cara lain, dengan mengingat bahwa ”keinginan untuki sama sekali tidak ditimpa oleh bencana sama dengan menginkan bahwa kita tidak pernah ada”. Karena bencana itu akibat dari logis kefanaan segala makhluk yang ada, sehingga menginginkan apa yang ada secara alamiah agar tidak ada, sama dengan menginginkan sesuatu yang tidak mungkin. Maka bila menginginkan sesuatu yang tidak mungkin di dapat maka pasti akan mendapatkan kekecewaan dan akan terperosok dalam keadaan yang menyedihkan.

Sifat sedih karena takut kehilangan material, ini merupakan penyakit iri dan peli karena tidak mau melepaskan sesuatu yang akan hilang berbentuk material. Selain itu material ini merupakan pinjaman dari tuhan, pemilik sejatinya, yang berhak kapan saja menariknya. Karena hal tersebut mereka yang merasakan kehilangan dalam bentuk material dan merasakan kesedihan maka mereka itu merupakan orang yang tidak tau arti bersyukur atas hak istimewa yang telah diberikan kepada mereka secara sementara.

Socrates pernah menjawab sebuah pertanyaan ”mengapa kamu tidak pernah bersedih?” socrates menjawab ”karena ia tidak pernah memiliki apa pun yang kehilanganya bisa menimbulkan kesedihan” .jadi benda material hanyalah titipan dan pemberian dari tuhan atas apa yang telah di usahakan seseorang di dunia yang fana ini. Dan hal tersebut seiring waktu akan hilang dan lenyap seketika. Bila hal tersebut terjadi maka sangat bodohlah orang tersebut bila merasakan kesedihan yang mendalam dikarenakan hal tersebut. Karen sebabterjadinya kesedihan yang sejati adalah pengasingan dari ”tempat tinggal kita yang sejati” dimana di alam spiritual, yang tidak ada bencana, pelucutan maupun kehilangan yang akan menimpa kita.

Tanggapan :

1.     Penyakit sedih dalam mengobati nya bukanlah dengan obat-obatan akan tetapi denagn cara ketabahan moral dan bertawakal.
2. mengobati penyakit sedih juga dapat dengan mengamati sebab terjadinya, apakah datang dari diri kita ataupun dari orang lain, sehingga dapat kita obati dengan cara yang berbeda.
3.     di dalam kehidupa, jangan mengagungkan material sebagai segalanya karena bila suatu saat materi tersebut dapat hilang seketika dan dapat menjadikan kita merasakan kehilangan pada saat seperti itu kita harus sabar dan ingat bahwa segala sesuatu itu datang dari nikmat Tuhan.
4.     jangan bersedih dengan apa yang kita dapatkan, terima apa adanya suatu saat akan datang yang lebih baik lagi.
5.    Syukuri nikmat yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar